"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Senin, 23 April 2012

Akhir Menyedihkan Seorang Ahli al-Qur’an

Dulu ada seorang pengajar al-Qur’an. Bukan hanya pengajar, ia juga penghafal al-Quran. Perilakunya sedemikian salehnya sampai-sampai orang yang memperhatikannya kagum padanya. Ia termasuk ahli ibadah, suka berpuasa di siang hari dan menunaikan salat di malam hari. Namanya Abdurrahman bin Muljam. Dia mendapat kedudukan terhormat di mata Khalifah Umar bin Khathab. Tatkala Gubernur Amr bin Ash meminta seorang pengajar al-Quran untuk wilayahnya kepada Khalifah Umar, Umar mengirimnya dan menuliskan surat pada Amr bin Ash: "Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shalih, Abdurrahman bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan al-Quran kepada masyarakat". 

Sekilas tak ada yang salah dengan orang ini. Namun seiring dengan berjalannya waktu di Mesir, pemahamannya akan al-Quran yang sangat terlalu formalistis mulai menampakan pengaruhnya. Bacaan al-Qurannya bagus, tetapi pemahamannya terhadap al-Qur'an sangatlah dangkal. Ia memahami al-Qur'an dengan apa yang tersurat, apa yang tertulis atau makna dzahir. Dalam masalah ritual ia amat mengagumkan, namun dari segi ukhuwah islamiyah ia mendapat nilai D. Itu sebabnya ia cenderung berprasangka buruk pada kaum muslim yang sedikit berbeda pemahaman dengannya. Bahkan tanpa ragu ia mengecap kafir dan membunuh pada orang yang tidak sepaham dengannya. 

Saat terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ditangan sekelompok orang termasuk para sahabat Nabi saw karena kesenjangan sosial dan buruknya akhlak kalangan elit dan dilanjutkan dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah baru yang mendapat protes dari beberapa sahabat. Fitnah telah merajalela di kalangan umat Islam. Aisyah ummul mukminin, Zubair bin Awwam dan anaknya, Thalhah bin Ubaidillah memprotes Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut qisas atas kasus pembunuhan Utsman bin Affan, padahal Zubair dan Thalhah termasuk orang yang pertama kali membaiat Ali sebagai Khalifah. Muawiyah dan Amr bin Ash dengan alasan yang sama juga menolak baiat pada Khalifah Ali. Ketiga pihak, kelompok Ali, kelompok Aisyah dan kelompok Muawiyah menimbulkan tragedi perang besar. Perang antara Ali dan Aisyah dimenangkan oleh pihak Ali. 

Adapun perang antara Ali dan Muawiyah inilah yang menimbulkan perpecahan di kalangan umat sampai sekarang ini. Satu kelompok memecah dari umat Islam karena tahkim yang diadakan oleh pihak Ali dan pihak Muawiyah untuk menyelesaikan perseteruan. Tahkim yang diadakan antara perwakilan Ali dan Muawiyah untuk menyelesaikan masalah tersebut salah besar menurut golongan yang memahami al-Quran sangat terlalu formalistis. Mengapa harus bermusyawarah. Putuskan saja dengan Al-Quran, ’la hukma illa Allah’, tidak ada hukum kecuali yang datang dari Allah, begitu pendapat golongan ini. Tindakan kedua pihak mengangkat wakil sebagai hakam (wasit) dianggap sebagai kekufuran. 

Golongan ini yang terkenal dengan sebutan Khawarij menantang Ali dalam perang Nahrawan. Hampir semua golongan ini terbunuh dalam peperangan kecuali sembilan orang. Ini sesuai dengan nubuat Nabi pada Ali, tidak akan tersisa kecuali kurang dari sepuluh orang. Abdurrahman bin Muljam termasuk dari sembilan orang tersebut. Berbekal dengan fahamnya yang menyatakan bahwa Ali telah kafir dan menyebabkan perpecahan umat Islam ia berencana untuk menghabisinya. Hasrat tersebut didukung pula dengan calon istrinya yang meminta mahar, salah satunya yaitu dengan membunuh Ali. Subuh, 17 Ramadhan ia berhasil membunuh Ali, khalifah keempat dan menantu Nabi Muhammad saw saat salat dengan pedang beracun untuk taqarrub kepada Allah.  

“Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai Ali” seraya Rasulullah menunjuk letak anggota tubuh dimana Ali ditikam. Demikian sabda Nabi saw kepada Ali tentang kesyahidannya. Diceritakan ketika Ali telah wafat dikeluarkanlah Ibnu Muljam untuk dibunuh. Maka Abdullah bin Ja'far memotong kedua tangannya dan kakinya, tapi dia tidak berteriak dan tidak berbicara, kemudian matanya dipaku dengan paku panas, dia juga tetap tidak berteriak bahkan dia membaca surat al-'Alaq sampai habis dalam keadaan darah mengalir dari dua matanya. Dan ketika lidahnya akan dipotong barulah dia berteriak, maka ditanyakan kepadanya : 'Mengapa engkau berteriak?' Dia berkata : 'Aku tidak suka kalau aku mati di dunia dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah.' Dan dia adalah orang yang keningnya berwarna kecoklatan karena bekas sujud. Semoga Allah melaknatnya dan orang yang sepaham dengannya. 

Demikian cerita su’ul khatimah seorang ahli al-Qur’an. Al-Qur’an tidak menyelamatkannya bahkan ia menjerumuskan dirinya menuju kebinasaan. Pikirannya terpaku dan terpatri oleh kesimpulannya sendiri tentang apa-apa yang tertulis dalam al-Qur’an. Ia tidak menerima pendapat kalangan lain yang berbeda dengannya, yang bahkan lebih benar dari pendapatnya, ia merasa paling baik ibadahnya dan paling benar pendapatnya. Lebih buruk lagi, ia menyatakan kafir, musyrik pada orang yang menyalahi pendapatnya, dan tak ragu untuk membunuhnya taqarruban ilaAllah, Na’udzubillah min dzalik. Keadaannya seperti jin Iblis yang membanggakan dirinya, ana khoirun minhu, aku lebih baik dari Adam. Iblis menolak mentah-mentah perintah Allah untuk bersujud pada Adam maka musnahkan semua amal ibadahnya selama 6000 tahun. 

Di masa sekarang gejala-gejala iblisiyah tersebut tidak hanya terdapat dalam golongan Khawarij,  melainkan bisa saja masuk ke dalam semua madzhab dalam Islam. Mereka merasa benar dengan pendapatnya sendiri dan menyalahkan pendapat lain. Mereka menganggap amal ibadahnya lebih baik dari siapapun. Mereka gegabah menghukum sesat, kafir madzhab lain tanpa tabayyun, dialog langsung ke madzhab tersebut. Mereka lebih suka bersanding dengan orang kafir dan menfatwakan kebolehan membunuh pengikut madzhab yang dituduh sesat sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Mereka inilah pemecah belah kesatuan umat Islam. Mereka ini yang perlu kita ajak dialog untuk menyatukan Islam. Mereka inilah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, “Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.”

3 komentar:

  1. Kalau mengikut fatwa MUI bagaimana? Karena di MUI banyak ahli figh, tafsir, tarikh dan terdiri dari semua unsur Islam. Saya kira kalau fatwa tentang LDII, SYIAH, Lia Aminudin, Qiyadah, Ahmadiyah...patut diikuri. Atau menurut anda mesti menyelidiki sendiri (malah bisa makin sesat sendiri).

    BalasHapus
  2. jadi kita harus ikut yang mana??????

    BalasHapus
  3. Ya ikut syiah dong yang merupakan pengikut Ali bin Abi Tholib yang mana Alloh dan Rasul-Nya menyuruh kita untuk mengikutinya, seperti kata Nabi kepada Ali A.S.: Ya Ali, Engkau dan Syiahmu adalah orang-orang yang beruntung, apa kita tidak ingin menjadi orang-orang yang beruntung?....Syukron...

    BalasHapus