"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Selasa, 02 Desember 2008

Kebenaran Sebuah Keyakinan Agama

Tatkala pengurusan jenazah trio bom Bali 1, terjadi beberapa keanehan atau keajaiban (entah cuma kabar burung atau benar2 terjadi) seperti bau wangi yang semerbak, burung yang terbang berputar di atas persemayaman mereka, dll. Sebagian kaum muslim percaya bahwa itu adalah sebagian tanda atau bukti bahwa keyakinan dan tindakan yang mereka perbuat dalam insiden Bom Bali 1 adalah benar dan tidak salah. Sebegitu mudahkah kita menjustifikasi suatu keyakinan, perbuatan sebagai sebuah kebenaran? Hanya dengan keajaiban, keanehan, dsb yang terjadi pada seseorang kita yakin bahwa keyakinan, perbuatan orang tersebut benar, tidak salah.
Coba netter gugling tentang hal-hal ajaib, aneh yang terjadi pada semua agama. Netter pasti temukan bahwa semua agama, bahkan non-agama pun pasti, sekali lagi pasti dapat menimbulkan keajaiban, keanehan bagi penganutnya. Berapa banyak jenazah utuh selama satu, puluhan, bahkan ribuan tahun dengan agama yang berbeda-beda. Atau dalam "penelitian" Masaru Emoto tentang air yang didoakan dengan pujian dan doa-doa dalam berbagai agama yang menimbulkan bentuk-bentuk kristal yang unik. Apakah hal tersebut dapat menjustifikasi bahwa semua agama benar semua?
Ada satu kisah dalam dunia tasawuf, kalau tak salah dalam kitab Tadhkirah al-Awliya', seorang sufi bernama Muhammad bin Khafif mengembara dalam pencarian dan pendekatan kepada Tuhan. Suatu ketika ia melihat sekelompok non-muslim ramai-ramai bergerombol ia pun turut menyaksikan apa yang terjadi. Di sana ia melihat seseorang (non-muslim) sedang mengobati orang sakit dengan cara yang ajaib dan aneh. dan hasilnya orang sakit tersebut sembuh seketika. Dalam dunia sufi yang biasanya kerap sekali berhubungan dengan hal-hal gaib, ajaib, ganjil dan menyalahi hukum alam, tak ayal Ibn Khafif merasa bimbang akan jalan suluknya. Malam harinya tatkala tidur ia bermimpi. Ia bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Setelah berbincang-bincang dan lalu bertanya tentang masalah yang merisaukan hatinya. Apa jawaban Nabi Muhammad tentang keajaiban pada orang non-muslim tersebut? Nabi bersabda, "Itulah hasil kesungguhan hati dan disiplin diri di dalam kesesatan". Coba bayangkan jika sikap-sikap tadi dipraktekkan dalam ajaran yang benar.
Kisah tersebut menjelaskan bahwa semua agama bahkan praktek-praktek non-agamis pun dapat memunculkan hal-hal ajaib, ganjil bahkan menyalahi hukum alam. Bukan hanya umat muslim saja, semua manusia di dunia ini dapat dan mampu memunculkan hal-hal ajaib selama memenuhi syarat-syarat di atas. Bahkan Dajjal sang pembohong pun -yang kemunculannya diberitakan semua nabi-nabi dibekali kemampuan gaib dan ajaib, seperti menghidupkan orang yang sudah mati. Apakah ajaran yang dibawa Dajjal adalah sebuah kebenaran? anda jawab sendiri ...
Lalu apa yang menjadi tolak ukur kebenaran suatu keyakinan, agama. Jawabannya tergantung pada anda bertanya kemana? karena semua agama dan aliran di manapun berada pasti dan sekali lagi pasti menyakini kebenaran ajaran yang di anutnya dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Jalan tengah yang tepat dalam dunia yang plural ini adalah semua penganut agama di dunia ini seharusnya dan wajib mempelajari dan memikirkan kitab sucinya masing-masing, bukan mencari cela, kelemahan, kesalahan pada umat lain. Kitab-kitab suci semua agama, baik yang sudah terkontaminasi maupun yang belum pasti sedikit banyak mempunyai secercah kebenaran yang tertinggal. Mempelajari dan memikirkan ajaran yang terkandung dalam kitab suci asli masing-masing akan dapat mendorong umatnya memperoleh Kebenaran Yang Sejati. Tunduk buta pada ulama, biksu, rahib, rabi, pendeta hanya akan memadamkan cahaya akal yang diberikan Tuhan pada manusia.
Semoga cahaya Tuhan menerangi kita semua. Wa Allah a'lam.

0 comments:

Poskan Komentar