"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Selasa, 06 Oktober 2009

Membangkitkan Kembali Fiksi Ilmiah Islam

Novel karya Ibn Tufail menuntun sebuah revolusi ilmiah.

Hayy memendam pertanyaan dalam dirinya. Tak ada seorang pun yang bisa ia ajak berkeluh kesah, bahkan bertukar pemikiran. Ia akhirnya mencari sendiri jawaban atas segala tanya yang ada dalam benaknya. Bahkan, ia mengautopsi bagian tertentu tubuhnya untuk menemukan jawaban. Akhirnya, ia menemukan jawaban. Ia menemukan kesejatian. Ia yang tinggal di sebuah pulau terpencil, kemudian bersentuhan dengan agama dan peradaban saat bertemu dengan Absal, orang asing yang terdampar di pulau, di mana Hayy tinggal karena kapalnya karam.

Hayy adalah kisah dalam sebuah novel yang memaparkan upaya mencari sebuah kesejatian. Ini merupakan penjelasan mengenai metode filsafat. Kisah Hayy yang dalam novel berjudul Hayy ibn Yaqzan itu ditulis oleh Ibn Tufail, seorang filsuf dan dokter. Tufail merupakan cendekiawan Muslim pada awal abad ke-12, masa pemerintahan Islam di Spanyol. Banyak kalangan mengungkapkan, novel ini menuntun pada sebuah revolusi ilmiah. Ini merupakan novel Arab dan filsafat pertama yang memengaruhi literatur Arab dan juga Persia.

Bahkan, novel ini juga menancapkan pengaruhnya di Eropa, terutama setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan sejumlah bahasa Eropa pada 1671. Sebelumnya, Ibn Sina menulis kisah dalam judul yang sama, namun bentuk kisah yang berbeda. Hayy bisa disebut sebagai sebuah fiksi ilmiah yang telah dirintis di dunia Islam. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Barat mendominasi pengembangan fiksi ilmiah dalam beragam bentuknya, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam produk-produk film.

Jika membandingkan zaman sekarang ini, Barat telah lama bergelut dan menelurkan beragam karya fiksi ilmiah. Karya-karya fiksi ilmiah dari Barat juga tak hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat di Barat, tetapi juga kemudian merambah ke dunia Islam. Seiring berjalannya waktu, kini banyak para pemikir dan penulis di dunia Islam yang tertarik kembali untuk mengembangkan fiksi ilmiah. Paling tidak, keberadaan karya-karya fiksi ilmiah Islam itu mampu menjadi bahan pemikiran atau renungan di kalangan umat Islam.

Keberadaan fiksi ilmiah Islam membuat masyarakat Islam, khususnya, mendapatkan hiburan lebih mendidik dan Islami. Bahkan, sejumlah situs Islam rajin menyediakan informasi tentang buku-buku fiksi ilmiah Islam, di antaranya Islamscifi.com dan Islamonline.net .Ahmed A Khan, seorang penulis fiksi ilmiah dari Kanada, mengatakan, fiksi ilmiah Islam ikut berperan dalam menanamkan nilai-nilai kesadaran tentang Islam melalui cerita-cerita yang segar dan menarik serta tak membosankan.

Kemunculan cerita fiksi ilmiah Islam pada akhir-akhir ini, kata Khan, memang harus diakui juga melahirkan banyak perdebatan dan diskusi. Namun, ia memandang positif dinamika ini. Sebab, perdebatan dan diskusi itu justru memantik munculnya beragam ide baru. Kondisi seperti ini melahirkan potensi lebih besar bagi perkembangan lebih pesat cerita-cerita fiksi ilmiah. Khan mengatakan, fiksi ilmiah Islam bukan sekadar cerita fiksi, tetapi juga merupakan cerita fiksi yang spekulatif.

Dengan demikian, fiski ilmiah Islam memiliki fantasi yang lebih luas dan lebih jauh dari pemikiran sebelumnya. Dalam fiksi ilmiah Islam, tentu saja mengandung nilai-nilai Islam, seperti kepercayaan pada Allah SWT yang esa. Sebab, cerita fiksi ilmiah Islam diinspirasi oleh kepercayaan dan praktik yang ada dalam Islam itu sendiri, seperti kepercayaan kepada Tuhan yang esa dan pada rasul-rasulnya. Termasuk, pada praktik dan pemikiran yang sesuai dengan tuntunan Alquran.

Ciri-ciri

Menurut Khan, terdapat beberapa ciri sebuah cerita fiksi ilmiah bisa dikategorikan sebagai fiksi ilmiah Islam. Ciri ini diperlukan untuk membedakan sebuah cerita fiksi ilmiah yang bisa disebut fiksi ilmiah Islam atau bukan. ''Sebab, terkadang, ada cerita yang seolah mengadopsi kepercayaan Islam, namun tak bisa dikatakan fiksi ilmiah Islam,'' ungkap Khan. Bahkan, tambahnya, mungkin cerita fiksi ilmiah itu hanya mengadopsi budaya Arab.

Ciri pertama, sebuah cerita fiksi masuk dalam kategori fiksi ilmiah jika cerita tersebut berusaha menjelaskan keberadaan Allah SWT dan tak ada kekuasan lain yang menandingi kekuasan-Nya. Kedua, cerita tersebut mendorong umat manusia melakukan kebajikan universal. Di sisi lain, cerita tersebut juga mendorong umat mausia mencegah terjadinya kerusakan universal. Ketiga, cerita itu juga memiliki hubungan yang positif dengan aspek praktik-praktik ibadah dalam agama Islam.

Sedangkan, ciri keempat, setiap cerita menonjolkan seorang tokoh Muslim sebagai salah satu karakter utama dan tindakan tokoh Muslim ini dalam mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh setiap Muslim, seperti tidak minum alkohol.Ciri kelima, setiap cerita bisa mengambil satu atau lebih bagian dari Alquran atau ajaran-ajaran Nabi Muhammad yang terdapat di dalam hadis dengan cara yang positif. Jika sebuah cerita memiliki ciri-ciri tersebut, sebuah cerita bisa disebut fiksi ilmiah Islam.

Khan menilai, buku fiksi ilmiah yang ia tulis, The Maker Myth , merupakan cerita yang masuk ciri pertama: menonjolkan keesaan Allah SWT. Cerita fiksi ilmiah yang ditulis Mildred Clingerman yang berjudul Minister Without Portfolio juga termasuk cerita fiksi ilmiah Islam. Sebab, jelas Khan, cerita karya Clingerman tersebut mengusung kebajikan universal. Buku ini bercerita tentang para aliens yang menahan diri untuk segera meluluhlantakkan bumi karena kebaikan hati seorang wanita tua.

Kebaikan hati wanita tua itu menyadarkan para alien bahwa tidak semua manusia di muka bumi jahat hingga membuat alien tak tega menginvasi bumi. Jadi, kata Khan, cerita yang ditulis oleh seorang non-Muslim pun dapat diklasifikasikan sebagai fiksi ilmiah Islam.

Tentu saja jika cerita fiksi ilmiah tersebut memenuhi ciri-ciri fiksi ilmiah Islam. Sebaliknya, walaupun fiksi ilmiah itu ditulis seorang Muslim, namun tak Islami; cerita fiksi tersebut tak dapat dikatakan sebagai fiksi ilmiah Islam. Meski harus diakui pula, fiksi ilmiah Islam kebanyakan ditulis oleh seorang Muslim karena latar belakang agama dan kehidupannya sebagai umat Muslim.

A Mosque Among the Stars , sebuah antologi yang diedit oleh Ahmed A Khan dan Aurangzeb Ahmad, juga termasuk fiksi ilmiah Islam. Cerita ini masuk dalam ciri ketiga, yaitu memiliki hubungan positif dengan aspek praktik ibadah dalam ajaran Islam.Buku yang dirilis pada Desember 2008 lalu itu memuat tulisan sejumlah penulis, seperti Luis Shepard, Tom Ligon, Jetse De Vries, Howard Jones, Andrew Ferguson, Ahmed A Khan, Camille Alexa, GW Thomas, Kevin Miller, Pamela Taylor, Casey Wolf, dan DC McMahon.

Menurut Khan, semua tulisan yang ada dalam buku A Mosque Among the Stars seluruhnya masuk dalam ciri cerita fiksi ilmiah Islam. Ia menyebut, cerita fantasi lama berjudul Tilism Hoshruba dari India dan Shahnama dari Iran masuk dalam kategori fiksi ilmiah Islam.Sebaliknya, Khan menyampaikan pandangan yang mungkin cukup mengejutkan. Ia menyebut bahwa A Thousand and One Nights atau Seribu Satu Malam yang selama ini telah dikenal di kalangan umat Islam dan ditulis oleh Muslim tak tergolong dalam cerita fiksi Islam.

Sebab, perkataan dan perbuatan tokoh dalam buku cerita tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai dalam agama Islam. Dalam cerita Aladdin versi Walt Disney, jin digambarkan sebagai sebuah tokoh yang tingkah lakunya sangat konyol dan lucu sehingga membuat semua orang tertawa. Padahal, Islam sendiri tidak menggambarkan jin sebagai makhluk gaib yang suka berbuat konyol. Sehingga, cerita Aladdin tidak bisa dikategorikan sebagai fiksi ilmiah Islam.

Menilik Sejarah

Fiksi ilmiah sering dianggap sebagai alat memahami dunia melalui spekulasi dan penuturan cerita. Sebagai literatur, fiksi ilmiah sebagian bisa dilihat melalui sejumlah karya, seperti Lucian's True History dan Arabian Nights . Juga, pada awal abad kedua belas dan ketiga belas, ada Ibn Tufail dan Ibn al-Nafis. Pada abad ketujuh belas, ada pula Cyrano de Bergerac yang berjudul Voyage de la Terre la Lune and Des tats de la Lune et du Soleil . Lalu, terus berkembang hingga sekarang.

Pada perkembangan sains modern, Gulliver's Travels yang ditulis Jonathan Swift bisa disebut sebagai salah satu karya yang benar-benar disebut fiksi ilmiah. Kemudin, dilanjutkan oleh sejumlah karya yang dihasilkan Carl Sagan dan Isaac Asimov. Awal abad ke-19, buku-buku Frankenstein dan The Last Man yang ditulis oleh Mary Shelley dianggap membantu memberi batasan bagaimana sebuah novel dianggap sebagai novel fiksi ilmiah. Edgar Allan Poe kemudian membuat sebuah cerita tentang penerbangan ke bulan.

Kian berkembangnya teknologi baru, seperti listrik dan alat transportasi, penulis seperti Jules Verne dan H G Wells menuliskan sejumlah cerita fiksi ilmiah. Wells The War of The World karya Martian menceritakan penggunaan mesin perang. Pada 1960-an dan awal 1970-an, penulis seperti Frank Herbert, Samuel R Delany, Roger Zelazny, dan Harlan Ellison mengembangkan tren, ide, dan gaya penulisan baru. Sejumlah penulis lainnya, terutama di Inggris, juga melakukan hal yang sama dan disebut New Wave .

0 comments:

Poskan Komentar