"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Selasa, 20 Oktober 2009

Mengembangkan Tradisi Ilmu Melalui Kertas


Pembuatan kertas telah memicu penulisan buku dan berdirinya perpustakaan.

Lembaran-lembaran kertas telah memantik lompatan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Termasuk di dunia Islam. Melalui lembaran-lembaran kertas, beragam pemikiran ditorehkan. Hingga terwujud berjilid-jilid buku. Pun, sejumlah perpustakaan megah.

Dunia Islam mengenalkan teknologi baru dalam pembuatan kertas. Hingga kemudian, teknologi ini memicu bermunculannya pabrik kertas. Hingga muncul berjilid-jilid buku para ilmuwan Muslim. Ilmu pengetahuan juga berkembang pesat di dunia Islam.

Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar, dalam bukunya, Kembali ke Masa Depan, menuturkan, teknik pembuatan kertas pada mulanya dikenalkan oleh orang-orang Cina. Mereka adalah para tahanan perang pasukan Muslim yang ditahan di Samarkand, Uzbekistan.

Orang-orang Cina ini kemudian diminta untuk memperkenalkan teknik pembuatan kertas. Namun di Cina, pembuatan kertas dilakukan dengan menggunakan bahan baku daun murbei. Bahan baku yang sama tak terdapat di Samarkand.

Bahan baku pembuatan kertas disesuaikan dengan bahan yang ada. Mereka menggantinya dengan bahan lain, yaitu pohon linen, kapas, dan serat. Orang-orang Islam mengenalkan bambu sebagai alat untuk mengeringkan lembaran kertas basah, dan memindahkan kertas saat masih lembab.

Bahan baku kertas kemudian ditumbuk dengan palu besar, agar bahan-bahn tersebut dapat dihaluskan dengan baik.

Selain itu, dilakukan sejumlah fermentasi guna mempercepat pemotongan linen maupun serat, serta penambahan bahan kimia lain, seperti pemutih. Pada 1151, di Jativa, yang merupakan pusat pembuatan kertas di Spanyol, ditemukan sebuah kincir air.

Kincir tersebut digunakan untuk menggerakkan palu penempa bahan-bahan pembuat kertas. Di sisi lain, teknik pembuatan kertas terus dikembangkan oleh orang-orang Muslim. Pada akhirnya, mereka menemukan proses pemotongan kertas dengan menggunakan kanji gandum.

Teknik ini menghasilkan permukaan kertas yang bisa ditulis dengan menggunakan tinta. Penemuan ini memantik perkembangan industri kertas secara pesat. Tak heran jika kemudian, tempat pembuatan kertas tak hanya di Samarkand.

Namun kemudian, pembuatan kertas menyebar ke kota-kota Islam lainnya, seperti Baghdad, Tiberia, Tripoli, Damaskus, Kairo, Fez, juga Sicilia pada era Islam. Bahkan, seorang wazir dari dinasti Abbasiyah, Ja'far ibn Yahya, mengganti seluruh perkamen di kantornya dengan kertas.

Langkah ini ditempuh Ja'far karena menilai bahwa kertas mudah diperoleh dan mudah digunakan untuk menulis. Harganya pun murah. Keadaan ini tentu terwujud seiring dengan pesatnya industri kertas di dunia Islam.

Pada abad ke-10, tersebar pula pabrik-pabrik kertas yang mengapung di atas Sungai Tigris. Seorang petualang dari Persia pun pernah berujar, di Kairo, Mesir, pedagang sayur membungkus sayuran yang dijualnya dengan kertas.

Lalu, teknologi kertas pun akhirnya masuk dalam ranah peradaban Eropa. Ini ditandai dengan dibangunnya sejumlah pabrik kertas di Fabriano, Italia, pada 1276. Selain itu, ada juga pabrik kertas di Nuremberg, Jerman, pada 1390.

Di sisi lain, produksi massal kertas di dunia Islam memantik lahirnya sebuah profesi baru yang disebut warraqin. Profesi ini berperan membuat kertas, menulis dan menyalin tulisan, dan membuat buku sekaligus membuka toko buku.

Seorang yang berprofesi sebagai warraqin, memiliki kemampuan menyalin yang luar biasa. Mereka mampu menyalin buku setebal 100 halaman hanya dalam satu hingga dua hari. Mereka juga sering menuliskan komentar maupun kritik terhadap buku yang disalinnya.

Komentar tersebut biasanya ditulis di pinggir halaman. Jadi, seorang warraqin tentu saja merupakan orang yang memiliki kemampuan intelektual. Selain itu, toko-toko buku juga akhirnya menjamur di banyak tempat.

Toko-toko itu bertebaran di pinggir jalan kota-kota besar Islam. Seperti, di Damaskus, Baghdad, Kairo, Fez, dan Granada. Para pelajar dan ilmuwan terpikat mengunjungi toko-toko itu. Dalam perkembangan selanjutnya, toko-toko itu menjadi diskusi ilmiah.

Perkembangan yang tak terduga juga kemudian muncul. Merebaknya pabrik kertas, warraqin, toko buku, dan minta baca umat Islam, memantik berdirinya perpustakaan. Tak hanya perpustakaan publik, tetapi juga perpustakaan pribadi.

Perpustakaan publik biasanya hadir di masjid-masjid besar. Para jamaah berbondong-bondong untuk menggali ilmu di perpustakaan tersebut. Bahkan, pada masa itu, lahir sebuah perpustakaan terbesar dan terkenal, yaitu Bayt al-Hikmah.

Perpustakaan tersebut didirikan oleh Khalifah Abbasiyah Harun al Rasyid pada 830. Selain berfungsi sebagai perpustakaan, Bayt al-Hikmah juga menjadi pusat penelitian dan penerjemahan. Ilmuwan Muslim, seperti Al-Kindi dan Al-Khawarizmi, berkunjung ke perpustakaan itu.

Sardar menyatakan, pengembangan ilmu pengetahuan yang telah berkembang di dunia Islam, melalui teknik pembuatan kertas hingga bermunculan perpustakaan, mestinya dilanjutkan oleh Muslim pada zaman ini. Buku-buku bisa dijadikan sarana efektif menyebarkan ilmu pengetahuan.

Menurut cendekiawan kelahiran Pakistan pada 1951, yang berbasis di London, Inggris ini, jika umat Islam terus mampu mempertahankan tradisi keilmuan dengan baik, umat Islam bisa memberikan sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan di kancah global.

Dalam Kembali ke Masa Depan, Sardar juga mendorong umat Islam memanfaatkan dan mengikuti perkembangan teknologi yang kian pesat. Jadi, kata dia, umat Islam misalnya bisa menyebarkan ilmu pengetahuan tak hanya melalui penerbitan buku.

Compact disk (CD), ujar Sardar, mestinya juga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Jadi, tradisi pengembangan ilmu pengetahuan bisa dilakukan sambil mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Termasuk internet.

Karya-karya cendekiawan Muslim, Harun Yahya, misalnya, kini telah menyebar luas. Pemikiran dan pandangan-pandangannya bisa dibaca dan diakses oleh umat Islam di seluruh pelosok dunia, melalui internet dan CD. Demikian pula, pemikiran Sardar.

Sardar tak hanya menuliskan pemikirannya dalam setumpuk buku karyanya, yang telah diterjemahkan pula ke sejumlah bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Ia pun memiliki situs resmi yang berisi mengenai biografinya, pandangan, dan pemikiran-pemikirannya. dyah ratna meta novia

Melanjutkan Tradisi Penulisan dan Penerbitan

Tradisi penulisan dan penerbitan buku di dunia Islam terus berlangsung hingga kini. Langkah-langkah itu telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-10. Sebuah lompatan yang berawal dari teknologi pembuatan kertas.

Di Indonesia, tradisi penulisan buku juga berkembang. Di sisi lain, penerbit buku Islam juga bermunculan. Buku-buku Islam pun kian banyak membanjiri pasar. Bahkan akhir-akhir ini, antusiasme umat Islam terhadap buku dan novel Islam kian signifikan.

Tak heran jika saat ini, banyak buku bertemakan Islam dipajang di toko-toko buku. Bahkan, penerbit di Tanah Air, tak hanya menerbitkan tulisan dari cendekiawan maupun penulis di dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.

Sejumlah penulis luar negeri, seperti Yusuf Qardawi, Ziauddin Sardar, Tariq Ramadhan, dan Ali Syariati diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit di Indonesia. Jadi, umat Islam di Indonesia akhirnya bisa mengakses pemikiran-pemikiran para cendekiawan Muslim tersebut.

Ada sejumlah penerbit, yang menerbitkan buku-buku Islam di Indonesia. Di antaranya, penerbit Republika. Salah satu buku fenomenal yang diterbitkan penerbit ini adalah novel Islam berjudul Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Selain itu, ada pula Gema Insani Pers (GIP), yang menerbitkan sejumlah buku bertemakan Islam baik dalam bidang pendidikan maupun keluarga.

Penerbit lainnya, Serambi. Selain menerbitkan buku bertemakan Islam, penerbit ini juga menerbitkan buku-buku bertemakan umum.

Demikian pula, dengan penerbit Mizan. Penerbit ini juga banyak menerbitkan buku-buku berbobot. Tak hanya dalam bidang pemikiran, tetapi juga buku-buku bertemakan how to. Laskar Pelangi menjadi salah satu buku fenomenal penerbit Mizan. dya

Thanks to Republika

0 comments:

Poskan Komentar