"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Rabu, 20 Oktober 2010

Sisi Lain Tanggal Kadaluarsa

Sisi Lain Tanggal Kadaluarsa
Written by Azril Kimin

Kesadaran untuk menghindari obat yang sudah expiration date atau kadaluarsa cukup tinggi di masyarakat. Saking tingginya sehingga setiap obat yang sudah dekat tanggal kadaluarsanya ditolak bagaikan benda yang tidak berguna dan berbahaya. Benarkah anggapan demikian?

Expiration date atau tanggal kadaluarsa mulai banyak muncul pada kemasan obat sejak 1979, setelah undang-undang yang mengharuskan pabrik obat mencantumkan tanggal kadaluarsa diberlakukan di AS, yang akhirnya menular ke seluruh dunia. Umumnya tanggal kadaluarsa ditulis 2 hingga 3 tahun sejak obat dikemas. Dengan pencantuman tanggal kadaluarsa berarti pabrik pembuatnya menjamin bahwa hingga tangggal tersebut obat masih terjaga potensi dan keamanannya bila digunakan. Jaminan berlaku selama obat berada dalam kemasannya dan disimpan dalam kondisi normal.
Apakah yang terjadi apabila seseorang menggunakan obat kadaluarsa?.
Ada beberapa asumsi bila seseorang menggunakan obat yang sudah kadaluarsa:
1. Penyakit tidak/ lama sembuhnya karena obat yang digunakan sudah berkurang potensinya. Potensi obat berkurang karena sebagian zat berkhasiat sudah berubah menjadi zat lain yang tidak berkhasiat. Contoh antibiotika, hormon, obat dalam bentuk larutan.
2. Obat yang kadaluarsa berubah menjadi beracun yang menimbulkan bahaya baru. Contoh tetracyclin yang kadaluarsa dapat menimbulkan gangguan ginjal berat yang disebut fanconi syndrome.
3. Obat kadaluarsa ternyata tidak berubah secara fisik dan kimia (obat tetap berkhasiat).

Ketegasan pemakai untuk menghindari obat yang sudah kadaluarsa diperlukan bagi obat-obat yang kurang stabil, terutama dalam bentuk sirop dan cairan, hormon, antibiotik dan obat-obat penyelamat nyawa (first saving drugs)
Menilai masih baik atau tidaknya suatu obat hendaknya tidak semata-mata dari tanggal kadaluarsa yang tercetak pada kemasan obat. Penampilan fisik obat yang berubah, baik warna, rasa dan bau obat yang lain dari biasanya merupakan peringatan pada kita agar tidak mengkonsumsi obat tersebut. Kerusakan obat dapat saja terjadi walau tanggal kadaluarsa belum terlewati.

Aspek Pemborosan
Secara persentase, obat-obat yang rusak setelah tanggal kadaluarsa dilampaui sebenarnya relatif kecil . Hal ini pernah diteliti FDA pada 1985 atas permintaan Angkatan Udara AS yang kebingungan karena memiliki stock obat-obat kadaluarsa yang begitu besar. Kesimpulan penelitian adalah 80 persen obat-obat yang sudah expiration tersebut tetap aman dipakai 3 tahun setelah tanggal kadaluarsa dilewati.
Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan karena sebagian besar obat-obat merupakan zat-zat yang kestabilannya dapat diandalkan. Aspirin misalnya, dikabarkan cukup stabil hingga 100 tahun.
Mengapa pihak industri obat tetap menyatakan obat yang diproduksinya memiliki expiration date hanya 3 tahun kemuka, padahal banyak di antara mereka, lewat laboratorium risetnya, sadar bahwa obat tersebut dapat dijual dengan tanggal kadaluarsa yang lebih panjang.
Patut diduga industri farmasi lebih suka perputaran modal yang tinggi dan menghindari barang yang puluhan tahun masih ada di lemari obat konsumen. Dengan expiration date yang pendek pabrik obat akan lebih sering, dan lebih banyak memproduksi dan menjual. Yang rugi adalah konsumen, yang buru-buru membuang obat yang sudah lewat tanggal kadaluarsanyanya, padahal obat tersebut sebenarnya belum rusak dan aman untuk dipakai.
Asosiasi dokter Amerika (The American Medical Association) pernah menghimbau agar dilakukan lebih banyak lagi penelitian untuk melihat kemungkinan diperpanjangnya rentang tanggal kadaluarsa. Menurut asosiasi ini, pendeknya rentang tanggal kadaluarsa seperti yang terjadi selama ini lebih tepat dilihat sebagai upaya menghindari berkurangnya efektifitas obat, bukan untuk menghindari efek toksis.(AK)


http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=view&id=51&Itemid=52


Tanggal Kadaluarsa Obat itu Cuma Tipuan Marketing?

Kalau kita mendengar kata ‘kadaluarsa’, yang ada di pikiran kita adalah sesuatu yang sudah basi, busuk, atau tidak aman lagi untuk digunakan. Tapi menurut artikel yang saya kutip ini (butuh registrasi untuk melihat selengkapnya, tapi gratis kok), tanggal kadaluarsa pada obat-obatan medis itu hampir tidak berarti apa-apa dari segi medis. Bahkan 15 tahun setelah tanggal kadaluarsanya, mayoritas obat-obatan masih aman dan efektif untuk dikonsumsi!

Lalu untuk apa ada tanggal kadaluarsa di kemasan obat? Menurut artikel ini, tanggal itu secara legal wajib dicantumkan, tapi hanya sebagai jaminan dari perusahaan farmasi bahwa sebuah obat masih 100% aman dan efektif pada tanggal itu. Bukan berarti setelah tanggal kadaluarsa lewat, obat itu lantas menjadi tidak aman atau efektif.

Tambah artikel ini pula, seringkali tanggal yang dicantumkan perusahaan farmasi adalah kalkulasi yang sangat konservatif dan hanya akal-akalan supaya mereka bisa tetap untung dari penggantian dan pembelian kembali obat yang dianggap sudah kadaluarsa….dengan kata lain, mereka nggak mau profit mereka berkurang karena konsumen bisa menyimpan obat yang sama (tetap aman dan efektif) selama 10 tahun lebih! 8O

Biasanya saya skeptis dengan cerita ‘konspirasi kapitalisme’ begini, tapi berhubung sumber dan narasumbernya cukup kredibel di mata saya, kok rasanya jadi ngenes juga ya mendengarnya… padahal obat-obatan itu, alih-alih dibuang, mungkin bisa digunakan oleh mereka yang tidak mampu membelinya. :?

clipped from www.medscape.com
The military was sitting on a $1 billion stockpile of drugs and facing the daunting process of destroying and replacing its supply every 2 to 3 years, so it began a testing program to see if it could extend the life of its inventory. The testing, conducted by the US Food and Drug Administration (FDA), ultimately covered more than 100 drugs, prescription and over-the-counter. The results showed that about 90% of them were safe and effective as far as 15 years past their original expiration date.
“Manufacturers put expiration dates on for marketing, rather than scientific, reasons,” said Mr. Flaherty, a pharmacist at the FDA until his retirement in 1999. “It’s not profitable for them to have products on a shelf for 10 years. They want turnover.”
The FDA cautioned there isn’t enough evidence from the program, which is weighted toward drugs used during combat, to conclude most drugs in consumers’ medicine cabinets are potent beyond the expiration date.


Berikut lanjutan artikelnya yang tidak muat dalam kutipan Clipmarks di atas… memang ada beberapa perkecualian, namun it tampaknya terbatas pada obat-obatan cair yang memang relatif lebih tidak stabil dibandingkan obat-obatan padat (pil atau kapsul).

Joel Davis, however, a former FDA expiration-date compliance chief, said that with a handful of exceptions — notably nitroglycerin, insulin, and some liquid antibiotics — most drugs are probably as durable as those the agency has tested for the military. “Most drugs degrade very slowly,” he said. “In all likelihood, you can take a product you have at home and keep it for many years, especially if it’s in the refrigerator.” Consider aspirin…Dr. Carstensen, professor emeritus at the University of Wisconsin’s pharmacy school, who wrote what is considered the main text on drug stability, said, “I did a study of different aspirins, and after 5 years, Bayer was still excellent. Aspirin, if made correctly, is very stable.


http://catharsiscorner.wordpress.com/2008/11/09/tanggal-kadaluarsa-obat-itu-cuma-tipuan-marketing/

0 comments:

Poskan Komentar