"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Minggu, 18 Mei 2008

Din-i-Ilahi: Pemikiran Politik Keagamaan Sultan Akbar The Great

Oleh: Khy's Dihya Ghulam


PENDAHULUAN
Membicarakan India pada masa kejayaan Islam tak lepas dari sejarah dinasti Mughal (1526-1720). Begitu pula membicarakan dinasti Mughal tak lepas dari masa kejayaannya pada masa Sultan Akbar (1560-1605). Pada masa kekuasaan Akbar, India terdiri dari beberapa kelompok agama. Hindu sebagai mayoritas penduduk India, Islam dengan setengah bagian Sunni dan lainnya Shi’i. Selain itu juga ada Sikh, Jain, Kristen, serta Zoroaster/ Parsee.1 Dalam masa inilah muncul gagasan dari Akbar yang selalu dibicarakan dalam sejarah Islam, terutama dalam kawasan India. Din-i-Ilahi,2 istilah yang digunakan mayoritas ahli sejarah adalah produk pemikiran Akbar yang ditentang oleh sebagian kelompok umat Islam waktu itu.
Dalam makalah ini penulis tertarik untuk mencoba membahas sedikit seluk beluk Din-i-Ilahi, meski dengan minimnya referensi yang ada.

PEMBAHASAN
A.Sekilas tentang Akbar
Abd al-Fath Jalāl al-Dīn Muhammad Akbar dilahirkan Hamida Banu Begum di rumah Rana Virsal di Amarkot (Distrik Thar dan Parkar di Sindh) pada tanggal 15 Oktober 1542, ketika ayahnya Humayun (Sultan Mughal II) melakukan ekspedisi melawan Thatta dan Bhakkar. 8 Desember kemudian, Akbar dibawa lari Hamida ke kota Jun, tempat kemah Humayun, 75 Mil dari Amarkot dikarenakan bawahan Humayun bertengkar dengan Rana Virsal. Beberapa bulan kemudian ditengah perjalanan ke Persia untuk meminta bantuan, Humayun diserang oleh saudaranya, Askari. Merasa tak siapa menerima kedatangan saudaranya, Humayun melarikan diri beserta isterinya dan meninggalkan Akbar. Akbar yang berusia 1 tahun itu kemudian dibawa Askari ke Kandahar.
Di Persia Humayun meminta bantuan Shah, yang kemudian menyerang dan menguasai Kandahar dari genggaman Askari pada bulan September 1545. Pada tanggal 15 November, Humayun menguasai Kabul dari tangan Kamran, saudaranya. Kemudian Humayun mengirim utusan untuk mengambil Akbar dari Kandahar dan membawanya ke Kabul. Pertama kali melihat ibunya setelah sekian lama terpisah, Akbar yang berusia 3 tahun segera mengenal dan melompat ke pangkuannya. Bulan Maret 1546, Akbar pertama kali muncul di publik pada saat upacara khitan.
Pada Bulan November 1547, Akbar memulai masa pendidikannya pada umur 5 tahun. Dalam proses pendidikan, Akbar gagal diajarkan baca-tulis karena lebih tertarik pada olahraga dan hewan peliharaan, seperti unta, kuda, anjing serta merpati. Meski Akbar memiliki memori (ingatan) yang istimewa, ia tidak tertarik untuk belajar alfabet. Akbar lebih tertarik menjadi ksatria penunggang kuda, atau petarung lainnya. Sebagai seorang ayah, Humayun yang berlatar belakang akademis sering menasehati Akbar untuk belajar namun teguran tersebut tidak dihiraukan.3 Walau demikian, Akbar meniru sifat kakek dan ayahnya yang sangat suka mendengarkan orang-orang yang menuntut ilmu.4
Pada tanggal 27 Januari 1556 Humayun meninggal karena jatuh dari tangga perpustakaannya di Delhi. Mendengar berita kematian Humayun, Bairam Khan penjaga Akbar memproklamirkan Akbar yang berusia 14 tahun sebagai sultan Mughal pada 14 February 1556.
Pada masa kekuasaannya Akbar memperluas kekuasaan Mughal dari wilayahnya yang asal di Hindustan dan Punjab, Gujarat, Rajasthan, Bihar dan bengal. Ke arah Utara, Akbar merebut Kabul, Kashmir, Sind, dan Baluchistan. Deccan direbut pada tahun 1600.5
Akbar jatuh sakit pada tanggal 3 Oktober 1605 dan bertambah parah disebabkan perselisihan putra Akbar, Salim dan anak Salim, Khusrav yang akhirnya memecah menjadi 2 kubu. 21 Oktober, ketika kondisinya semakin parah Akbar menunjuk Salim sebagai penggantinya dan tengah malam tanggal 25-26 Oktober 1605 Akbar mangkat dan dimakamkan secara islami di Sikandra, lima mil dari Agra.6
B.Latar belakang timbulnya Din-Ilahi
Sebagaimana diketahui, Akbar dilahirkan di lingkungan yang cukup liberal. Ayahnya seorang Sunni, ibunya seorang Persia yang Shi’i, pertama kali menghirup nafasnya, ia berada di rumah seorang pemimpin Hindu. Begitu juga dengan penjaganya, Bairam Khan yang kemudian menjadi perdana menteri pada awal Akbar menjadi sultan, adalah seorang Shi’i, serta salah satu pendidiknya, Abd al-Latif yang mengajarkan Sulh-i-kull (Perdamaian Universal) yang tidak pernah dilupakan Akbar.7
Tak lama setelah Bairam Khan mangkat, beberapa kebijakan ia keluarkan, misalnya penghapusan praktek memperbudak tawan perang serta pemaksaan agama Islam pada mereka, penghapusan pajak masuk ke candi-candi di seluruh daerah kekuasaan Mughal bagi kaum Hindu, serta penghapusan jizyah bagi seluruh non-muslim. Selain itu pada tahun 1575 Akbar mendirikan Ibadat Khana (rumah sembayang) di Fatihpur Sikr. Tempat ini digunakan untuk diskusi keagamaan yang diadakan secara teratur setiap malam Jum’ah dan awalnya tempat ini khusus bagi kaum Islam.8
Saat pertama kali diskusi digelar, terjadi pertengkaran antara pemimpin Sunni, Abd Allah Sultanpur yang bergelar Makhdum-ul Mulk dengan Shaykh Abd al-Nabi, kepala Sadr.9 Peristiwa tersebut menyebabkan Akbar mulai kecewa serta hilang kepercayaannya pada keduanya. Hal ini sampai pada titik klimaksnya (1577) ketika Abd al-Nabi menjatuhkan hukuman mati pada seorang Brahman. Brahman tersebut terdakwa dalam kasus penghinaan Nabi Muhammad saw ketika akan mengambil secara paksa bahan material untuk pembangunan masjid dan menggunakannya untuk membangun candi. Keputusan Abd al-Nabi tersebut menimbulkan protes umum, termasuk juga kalangan istana seperti Abu al-Fadl.10
Akbar yang disusahkan atas kejadian tersebut menceritakan pada Shaykh Mubarak, ayah Abu al-Fadl. Mubarak menjelaskan menurut undang-undang Islam, jika ada pertikaian pendapat antara ahli hukum, maka kepala pemerintahan Islam mempunyai otoritas dan berhak memilih salah satu pendapat. Dari sinilah kemudian disusun sebuah dokumen yang menjelaskan bahwa Akbar mempunyai hak otoritas untuk memilih satu pendapat yang menguntungkan bangsa, jikalau terjadi perselisihan. Selain itu Akbar juga berhak mengeluarkan perintah baru, yang tidak hanya sesuai dengan al-Qur’an, tapi juga menguntungkan bangsa. Dokumen tersebut kemudian ditandatangani oleh ulama-ulama terkemuka dan ahli hukum pada bulan Rajab 987 (Agustus-September 1579).11 Berbekal dokumen tersebut, Akbar kemudian membuka Ibadat Khana tidak hanya untuk kaum Islam, namun seluruh agama yang ada di India. Dengan ikut sertanya non-muslim dalam diskusi agama di Ibadat Khana, maka terjadilah pemberontakan di Jaunpur (1579). Tak lama setelah pemberontakan tersebut dikalahkan, Akbar menyatakan gagasan Din-i-Ilahi atau Tawhid Ilahi (1582).12
Segera setelah diumumkan, Din-i-Ilahi berkembang pesat terutama pada petinggi-petinggi dinasti Mughal.13 Ide ini disebarkan dengan tanpa memaksakan kepada siapa pun. Meski demikian tetap saja bagi kalangan ortodoks Sunni ide-ide tersebut berlawanan dengan pemikiran mereka sehingga timbul pemberontakan-pemberontakan, misalnya di Kabul dsb. Namun pada akhirnya pemberontakan-pemberontakan tersebut berhasil dikendalikan oleh Akbar.14
Sebagaimana diketahui bahwa ide Din-i-Ilahi berpusat kepada pengaruh Akbar, sehingga dengan meninggalnya Akbar maka berakhir pula Din-i-Ilahi. Akbar tidak mengangkat orang-orang yang meneruskan dan mempropagandakan gagasannya. Hal ini diperparah Jahangir, putranya yang tidak melanjutkan Din-i-Ilahi, ia hanya mempertahankan proses sijdah ketika menghadap sultan di istana. Hal ini dikarenakan ia lebih cenderung ke Sunni ortodoks. Lepas dari itu, ia juga tidak memiliki rasa toleransi pada agama-agama lain, sehingga sering terjadi penghancuran candi-candi.15
C.Din-i-Ilahi
Melihat kondisi masyarakat India waktu itu, merupakan sebuah masalah serius bagi seluruh penguasa India bagaimana menemukan basis kesetiaan seluruh kelas yang ada hanya kepada kerajaan. Dalam hal ini Akbar mengetahui dengan pasti tidak dapat memaksakan pemeluk Hindu, misalnya ke agama Islam, begitu pula sebaliknya. Demikian juga memaksakan mereka semua ke sebuah agama yang baru bukanlah sesuatu yang menguntungkan kerajaan. Untuk itulah Akbar mendirikan Din-i-Ilahi, sebuah ideologi pengkultusan sultan (cult of the monarch).16
Dalam Din-i-Ilahi, Akbar mengadopsi ide-ide dari beberapa aliran agama yang ada. Akbar menempatkan dirinya sebagai seorang manusia diatas rata-rata, yang lebih baik dari pemimpin-pemimpin keagamaan waktu itu. Untuk penjelasan akan kebesarannya, Akbar meminjam ide illuminasi dari Shihāb al-Dīn Suhrawardi al-Maqtūl. Disana dijelaskan bahwa seluruh kehidupan yang ada menerima illuminasi tak teratur dari Cahaya diatas cahaya dari Timur atau Tuhan. Setiap manusia mempunyai percikan ketuhanan (divine spark), namun hanya orang yang telah melalui tiga tahap17 yang benar-benar teosufi atau pemimpin zaman, atau yang biasa disebut raja-filosof. Dalam hal ini Akbar, termasuk salah satu dari mereka.18 Selain itu, beberapa aturan Din-i-Ilahi juga diadopsi dari beberapa aliran agama yang ada. Misalnya sijdah yang diambil dari model penyerahan diri murid kepada murshid dari tarikat Chistiyah.19 Begitu juga pantangan makan daging, waktu pengangkatan anggota, dsb. Berikut ini adalah beberapa pokok ajaran Din-i-Ilahi:
1.Cara menjadi pengikut Din-i-Ilahi
Akbar menerima para kandidat pada hari Ahad, ketika matahari bersinar tepat tengah hari. Pertama kali seorang kandidat diperkenalkan Abu al-Fadl, sebagai ulama tertinggi. Kemudian kandidat dengan turban (serban) di tangannya, meletakkan kepalanya di kaki Akbar (sijdah). Akbar kemudian membangunkan kandidat tersebut kemudian meletakkan turban tersebut kembali ke atas kepalanya. Setelah itu Akbar memberikan shast (cincin/ gambar Akbar) yang bertuliskan Nama Tuhan serta kalimat Allah Akbar.
2.Diantara aturan Din-i-Ilahi
a)Para anggota Din-i-Ilahi, ketika berjumpa dengan sesama anggotanya harus mengucapkan Allah Akbar20, dan sebagai jawabnya ialah Jalla Jallaluh. Motif Akbar menetapkan bentuk salam ini adalah untuk mengingatkan manusia agar mereka memikirkan asal kejadiannya, dan menjaga ketuhanan tetap hidup dan selalu diingat.
b)Sebagai ganti dari makanan yang biasa diberikan untuk memperingati seseorang yang telah meninggal, masing-masing anggota harus mempersiapkan makanan selama masa hidupnya. Dengan demikian dia mengumpulkan persiapan untuk perjalanannya yang terakhir.
c)Setiap anggota harus mengadakan pesta pada hari ulang tahunnya dan memberikan sedekah. Dengan demikian ia mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang panjang.
d)Setiap anggota harus berusaha tidak memakan daging. Mereka boleh membiarkan orang lain memakan daging tanpa dia sendiri menyentuhnya. Selama bulan kelahirannya mereka tidak boleh mendekati daging. Mereka tidak boleh menggunakan tempat yang sama yang pernah dipakai oleh tukang daging, penangkap ikan serta penangkap burung.
e)Setiap anggota tidak boleh menikahi wanita tua dan gadis-gadis belum akil baligh.
f)Setiap anggota diharapkan untuk mengorbankan harta benda, kehidupan, kehormatan serta agamanya untuk pengabdian kepada sultan.21

PENUTUP

Din-i-Ilahi merupakan upaya Akbar untuk menyatukan berbagai macam agama yang ada di India agar setia kepada Akbar, sultan Mughal III. Dalam Din-i-Ilahi, Akbar mengadopsi beberapa pemikiran agama yang berkembang di India. Untuk menyatakan keagungan Akbar diatas rata-rata manusia, ia mengadopsi pemikiran illuminasi Suhrawardi. Dalam aturan-aturan Din-i-Ilahi, ia mengadopsi ajaran berbagai aliran keagamaan. Sijdah diadopsi dari tarikat Chistiyah, pantangan makan daging yang mungkin diadopsi dari Hindu, Jain, atau proses tahap pertama illuminasi. Larangan menggunakan wadah tukang daging, penangkap ikan, penangkap burung secara tidak langsung diambil dari ajaran Jain, begitu juga waktu pengangkatan anggota dipengaruhi dari ajaran Zoroaster, dsb.
Din-i-Ilahi ini memperoleh dukungan anggota dari petinggi-petinggi dinasti Mughal, meski pada akhirnya Din-i-Ilahi mengalami kegagalan dengan meninggalnya Akbar yang menjadi pusat Din-i-Ilahi. Wa Allāh a’lām

0 comments:

Poskan Komentar