"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Sabtu, 26 September 2009

Bershalawatlah!!!


77 tahun kemudian ketika jenazahnya akan dipindahkan ke Markasy dari desa Suwas, ternyata keadaan jasadnya tidak berubah, masih tetap utuh seperti sediakala. Rambut dan jenggotnya kelihatan masih baru dicukur, karena dahulu ketika akan wafat, beliau sempat bercukur terlebih dahulu. Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuly penyusun kitab shalawat "Dalail al-Khairat" yang wafat pada 16 Rabiul awal 870 Hijriah ketika sedang shalat Subuh pada sujud yang kedua dalam rakaat awal. Makamnya semerbak bau harum, hal ini dikarenakan beliau senang membaca shalawat kepada Rasulullah saw selama hidupnya. Dan berkat shalawatlah beliau mendapat derajat kedudukan yang tinggi sebagaimana yang pernah beliau katakan: Tuhan telah berfirman kepadaku: "Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku menganugerahkan karomah dan derajat luhur kepadamu ini karena kau senang memperbanyak shalawat kepada Nabi-Ku". Konon, berkat kitab Dalailul Khairat yang sering diwiridkan itulah para pejuang Afghanistan mampu mengalahkan pasukan Uni Soviet. Itulah salah satu keutamaan bershalawat yaitu akan mempertinggi derajat kedudukan kita di sisi keharibaan Allah, bahkan Abd al-Wahhab al-Sya'rani pernah mengatakan: "Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya jalan wushul kepada Allah melalui jalan bershalawat kepada Rasulullah saw merupakan jalan yang paling dekat."

Para Ulama telah sepakat bahwa membaca shalawat merupakan kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan surah al-Ahzab ayat 56 Allah berfirman
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". Disebutkan dalam ayat tersebut bahkan semua malaikat, bahkan Allah sendiri pun bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, dan Allah memerintahkan semua orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Ayat diatas juga membedakan antara ibadah bershalawat dengan ibadah-ibadah lainnya. Dalam semua ibadah lainnya Allah langsung memerintahkan semua hamba-Nya untuk melaksanakannya. Adapun dalam bershalawat, Allah swt sendiri yang pertama kali memulainya, kemudian memerintahkan kepada makhluk ciptaan-Nya, mulai dari para malaikat dan selanjutnya kepada semua hamba-hamba-Nya.

Bershalawat juga merupakan bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw. Seorang pencinta tidak hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan apa yang membahagiakan kekasihnya, tapi ia juga dengan senang hati mengingat, menyebutkan nama kekasihnya di mana pun ia berada. Demikian halnya dalam shalawat, dengan memperbanyak bershalawat, kita menunjukkan bukti kepada Nabi Muhammad saw bahwa kita mencintainya dan terus mencintainya. Bahkan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw karena ingin mendapatkan perhatian orang lain pun tetap tersampaikan kepada Rasulullah meski dalam segi pahala dipandang sama seperti ibadah lainnya, yaitu harus dilaksanakan dengan ikhlas. Demikian yang dikatakan sebagian ulama mengenai dahsyatnya keistimewaan bershalawat kepada Nabi kita, Muhammad saw.

Di dalam dunia tasawuf, shalawat memiliki keistimewaan tersendiri. Zikir, wirid selain shalawat harus diamalkan dalam pengawasan mursyid. Sedang mengamalkan shawalat tidak memerlukan seorang mursyid karena bershalawat bermursyid langsung kepada Rasulullah saw. Abu al-Mawahib al-Syadzaly mengatakan, sebagaimana dikutip Ahmad Zaini Dahlan dalam Taqrib al-Ushul li Tashil al-Wushul, "Allah memiliki hamba-hamba yang langsung dibimbing Rasulullah saw, disebabkan mereka banyak bershalawat kepada beliau." Pernyataan senada juga dikatakan oleh sebagian kaum arifin seperti yang dituliskan Shawiy dalam Hasyiyah al-Shawiy. Bahkan Abd al-Rahman bin Mustafa al-Aidrus, dalam Mir'at al-Syumus fi Manaqib Ali al-Aidrus, menyatakan bahwa pada akhir zaman nanti tidak akan ditemukan lagi mursyid hakiki. Menurutnya, satu-satunya amalan yang dapat mengantarkan hamba wushul kepada Allah adalah dengan memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Mari kita bershalawat!

0 comments:

Poskan Komentar