"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Selasa, 10 Juni 2008

Menguak Misteri Mozaik Muslim

by Nurkhoiri

Ilmuwan muslim sudah lebih 500 tahun menerapkan pola geometris, yang baru dipahami dunia Barat mulai empat dekade silam.

Profesor dari Universitas Harvard, Peter Lu, memiliki pekerjaan cukup bergengsi di dunia sains. Ahli fisika itu merancang percobaan untuk Stasiun Antariksa Internasional. Dasar ilmuwan sejati, saat melihat bangunan kuno di Bukhara, Uzbekistan, di sela-sela kunjungan kerja di Asia Tengah, ia malah terpikat dan kemudian menelitinya dengan serius.

Yang dilihat Lu adalah mozaik pada satu dari sejumlah bangunan kuno berusia ratusan tahun di negeri muslim. Mozaik itu sangat rumit. Sampai saat ini, dipercaya gambar itu dibuat dengan bantuan dua peralatan yang ada saat itu: mistar dan jangka.

Dengan dua alat itu, pasti sangat sulit membuat mozaik yang rumit itu bisa tercipta dengan sempurna. Tak pernah ada kesalahan gambar meski dindingnya begitu besar--yang dipastikan bakal muncul jika hanya menggunakan mistar dan jangka. Jadi, dalam pikiran Lu, pasti ada trik agar gambar itu tidak pernah salah.

Trik membuat mozaik kuno ini, ternyata, sangat rumit. Para insinyur dan desainer muslim menggunakan teknik yang ratusan tahun lebih maju daripada teknologi Barat. Mereka menggunakan teknik matematika yang disebut pola quasicrystalline, yang baru terpecahkan pada 1970-an oleh pakar matematika, Roger Penrose, pada 1970.

Penerapan teknik quasicrystalline oleh para insinyur muslim itu berhasil dipecahkan Lu bersama rekannya dari Universitas Princeton, Paul Steinhardt, dan kemudian dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science pekan ini.

Lu sendiri, meski sudah bisa memecahkan trik pembuatan mozaik, masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di dunia ilmu pengetahuan. "Ini bisa berarti bukti tingginya peran matematika dalam seni islami pada abad pertengahan atau mungkin sekadar keterampilan seniman untuk membuat karya mereka makin gampang," kata Lu.

Lu memang agak eksentrik sehingga ia mengutak-atik matematika untuk memuaskan rasa ingin tahu soal geometri mozaik. Lu, sang ahli fisika, memang memiliki catatan suka membongkar rahasia yang dipandang biasa oleh mata ilmuwan lain. Tahun lalu, misalnya, ia berhasil membuat model matematika untuk menjelaskan kecepatan pemulihan biosfer bumi setelah dinosaurus punah. Temuan ini dimuat dalam jurnal National Academy of Sciences.

Dua tahun sebelumnya ia melaporkan temuan di jurnal Science bahwa pola spiral di batu giok Cina yang berumur 2.500 tahun menggunakan pola spiral Archimedes sempurna.

Saat melihat mozaik pada dinding bangunan di Bukhara itu, ia jadi ingat kuliah tentang pola Penrose saat melihat mozaik tersebut. "Saya melihat pola itu sehingga mata saya terbuka dan saya mencoba menerapkannya pada tegel," katanya.

Sepulang ke Harvard, ia pun mulai berkutat di perpustakaan untuk mencari literatur tentang seni desain Islam. Begitu tertarik sehingga Lee tidak bisa tidur selama berhari-hari. "Saya bahkan melewati libur Natal agar bisa memecahkan masalah ini."

Ia menemukan beberapa temuan menarik, termasuk salinan perkamen Persia berusia ratusan tahun, yang memaparkan bentuk dasar untuk membuat mozaik. Perkamen yang tersimpan di Museum Istana Topkapi, Istanbul, Turki, itu memperlihatkan pola mozaik yang rumit. Di atas gambar rumit itu diberi bayangan lima bentuk dasar.

Hanya dengan lima bentuk tegel dasar, mereka bisa menciptakan mozaik simetris rumit, yang baru bisa dijelaskan secara matematis pada empat dekade silam. "Mereka membuat pola tegel yang mencerminkan keterampilan matematika yang begitu tinggi yang tidak bisa dipecahkan sampai 20 atau 30 tahun belakangan ini," kata Pak Profesor.

Lima bentuk itu bisa disederhanakan hanya menjadi dua bentuk utama. Prinsip matematika bentuk ini dirumuskan oleh pakar matematika, Roger Penrose, pada 1970-an. Bentuk ini kadang disebut "Pola Penrose" dan ia memegang hak ciptanya. Perusahaan kertas tisu Kleenex pun pernah dituntut Pentaplex--perusahaan yang dikendalikan Penrose--karena menggunakan pola mozaik ini.

Seni mozaik ini dipakai luas di dunia muslim selama ratusan tahun, berkembang saat Eropa memasuki abad pertengahan, tidak hanya di Bukhara. Sebelumnya sudah ada sejumlah ilmuwan yang tertarik meneliti penciptaan hiasan mozaik itu di Barat. Emil Makovicky dari Universitas Kopenhagen, Denmark, misalnya, pada 1990 sudah memperhatikan adanya hubungan dengan desain quasicrystalline. Ia tertarik saat memperhatikan hiasan pada makam dari tahun 1197 di Maragha, Iran.

Penelitian ini membuat Lu lebih menghargai pera daban lain. "Ini memperlihatkan kepada kita tentang budaya yang sering kali dianggap kurang maju daripada yang kita pikir," kata ilmuwan Amerika Serikat berdarah Tionghoa ini.

Sumber : Koran Tempo (26 Februari 2007)

0 comments:

Poskan Komentar