"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Senin, 11 Agustus 2008

Akar Masalah Ahmadiyah dan para pengaku nabi lainnya (2)

Sebagaimana posting yang lalu tentang konsep al-Mahdi yang penuh interpretasi, yang dijadikan dasar sebagai nabi baru. Ada satu lagi yang menurutku penting untuk dijlenterekan yaitu intuisi, wahyu yang diperoleh para pengaku nabi. Banyak disebutkan di berbagai media bahwa para pengaku nabi tersebut mendapat bisikan, mimpi, wahyu dari Tuhan. Kemudian berdasarkan wahyu tersebut mereka menjalankan "dakwah"nya.
Model-model intuisi, baik secara sadar atau tidak inilah, yang menurut saya perlu dijelaskan, apakah intuisi tersebut benar-benar otentik dari Tuhan atau yang lainnya. Ada suatu kisah yang tidak asing di kalangan santri. Suatu malam Abdul Qadir al-Jaylani melihat secercah cahaya tampak di depannya. Cahaya itu berkata, "Aku Tuhanmu". "Kamu sudah boleh tidak melaksanakan sholat lagi karena kamu telah mencapai maqam yang tertinggi". Lantas apa reaksi al-Jaylani? Beliau tahu itu adalah setan dan segera tidak menghiraukannya. Dari kisah ini dapat diketahui bahwa seorang sufi besar pun dapat mendengar bisikan setan, iblis dan sejenisnya yang berpura-pura sebagai agen kebaikan, Tuhan dan semacamnya, apalagi kaum awam yang tidak mengerti seluk beluk Islam, sebut saja tasawuf. Kaum awam akan merasa percaya, yakin bahwa ia adalah manusia terpilih dari semua manusia, karena mendengar bisikan-bisikan tersebut, yang dianggap sebagai wahyu seperti digambarkan dalam sejarah orang-orang suci.
Dalam masyarakat umum pengetahuan tentang keotentikan intuisi ini belum sepenuhnya diverifikasikan. konon Ibrahim ketika dititahkan untuk menyembelih Ismail ia sampe ragu selama sehari, Nuruddin Mahmud Zinky, dalam mengagalkan pencurian jenazah Muhammad saw memerlukan beberapa kali mimpi untuk memastikan bahwa orang yang meminta pertolongannya adalah Muhammad saw. dan sebagainya. secara umum, para pengaku nabi ini, yang rata-rata awam tentang tasawuf belum menkonfirmasikan apakah bisikan, mimpi, wahyu mereka dengan benar. Ketika memperoleh sekali atau beberapa kali ia langsung saja percaya bahwa itu dari Tuhan, malaikat Jibrail atau lainnya. Pengulangan bisikan, wahyu ini menurut saya penting sekali bagi pembenaran verifikasi, disertai ibadah dan ilmu juga pastinya, bagi mayoritas orang awam yang belum tahu pasti. kenapa ini penting? sebut saja bahwa perintah Tuhan itu penting bagi kita atau sekitar kita, Tuhan pasti mengulangi perintah tersebut sehingga ia menyadarinya.
Sebenarnya pengetahuan, ma'rifah tentang pembedaan bisikan, wahyu, apakah itu benar-benar otentik dari Tuhan atau lainnya, sebagaimana dijelaskan Ibn 'Arabi merupakan suatu anugerah istimewa yang diberikan kepada sebagian abdi-Nya. Apabila hamba tersebut tahu bahwa itu benar-benar dari Sang Pencipta, perintah semustahil apapun akan dilaksanakan. seperti kisah Ibrahim di atas yang diperintah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Atau cerita Khidr yang membunuh anak kecil demi kebaikan orang tuanya, merusak perahu demi keselamatan perahu tersebut, serta memperbaiki rumah di perkampungan yang kikir, dan banyak lainnya. Dan patut diperhatikan bahwa jalan untuk mengetahui keotentikan intuisi tersebut, tasawuf adalah bukan jalan lurus yang tanpa duri dan darah bercucuran. konon jalan tersebut mempunyai dua kepastian, pertama tujuan sesungguhnya, Sang Kebenaran Sejati dan tujuan palsu yang dikendalikan si Iblis.
Semoga Tuhan memberikan seatom cinta kepada kita, yang dengan itu kita dapat menatap Tuhan selamanya.

0 comments:

Posting Komentar