"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Minggu, 22 Agustus 2010

Menghukum tanpa Kekerasan

Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi)

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tuanya di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi. di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun tentu saja sangat gembira dengan kesempatan itu. mengetahui bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga meminta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kamu di sini jam 5 sore, lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama". Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayah dan ibunya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan ia benar-benar terkesan dengan dua permainan John Wayne sehingga ia lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17.30, Arun langsung berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya sampai ia terlupa pesanan ibunya. Sementara Ayahnya yang sudah lama menunggu Arun mulai gelisah dan khawatir, karena saat itu sudah hampir pukul 18.00.
Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun, "Kenapa kamu datang terlambat?".

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa ia terlambat karena baru saja selesai menonton film John Wayne di bioskop, sehingga ia menjawab, "Tadi....., mobil ayah belum siap sehingga saya harus menunggu". Mendengar penjelasan Arun, Ayahnya kecewa..., karena Arun telah berbohong, padahal tanpa sepengetahuan Arun, Ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu dan mengetahui mobilnya telah selesai diperbaiki sebelum pukul 16.00.

Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah pada Ayah dalam membesarkan kamu, sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada Ayah. Untuk menghukum kesalahan Ayah ini, Ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan sambil mengintropeksi diri ayah dengan baik".

Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu saat menghadiri konferensi tadi, mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan di jalan sama sekali tidak rata, karena pada saat itu jalan belum banyak yang di aspal seperti saat ini. Arun berusaha meminta maaf dan membujuk ayahnya untuk pulang bersama-sama naik ke mobil, tetapi ayahnya tetap tidak bergeming dan terus berjalan menapaki jalanan yang sepi dan gelap. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, arun mengendarai mobil pelan-pelan di belakang ayahnya sambil menyoroti lampu mobil untuk menerangi jalan ayahnya. melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya karena kebodohan yang telah dilakukan Arun sangat menyesal. Sejak saat itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Dan sampai kini Arun masih ingat sekali akan kejadian itu sehingga iapun mengisahkan pengalamannya sebagai modal berharga dalam kehidupannya.

Dr. Arun Gandhi:
"Sering kali saya berpikir mengenai kejadian itu dan merasa heran. Seandainya saai itu Ayah menghukumku sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan pelajaran mengenai arti kekerasan dan hukuman ? Saya kira tidak, Saya sangat menderita atas hukuman itu dan mungkin akan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan Ayah yang tanpa kekerasan dan sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Dan menurutku itulah kekuatan tanpa kekerasan".

0 comments:

Poskan Komentar