"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Selasa, 18 Januari 2011

Hiem : Warisan Aceh yang Mengandung Nilai Agama

AYAT-ayat al-Quran tentang keharusan manusia untuk menggunakan akal supaya berpikir (tafakkur) sangat banyak. Pertanyaan-pertanyaan tentang apakah kamu tidak berpikir juga berlangkali. Berpikir memang bagian dari kemanusian kita. Para pemikir mendapat penghargaan dari Allah SWT. Sedangkan membiarkan otak beku adalah sebuah kerugian. Hiem (teka teki) adalah bagian dari proses berpikir itu, dan jawabannya adalah buah kecerdasan.

Saya pikir setiap suku bangsa di dunia ini mempunyai hiem (teka teki) yang terus hidup dan diwarisi masyarakatnya. Di Aceh teka teki dikenal dengan hiem. Hiem itu diciptakan oleh orang-orang yang cerdas (banyak akal) untuk kepentingan belajar dan mengajar.

Sejak kecil kita sudah mendengar beberapa hiem yang diajarkan oleh nenek kita, ibu, bapak, abang, kakak, juga teman-teman sepermainan. Hiem yang paling saya ingat adalah: Hiem houb, ma keuh ruhieb, ku keueh reuhoub (Teka-teki teka teukob, ibunya peyot, bapaknya ringsek). Jawabannya boh kruet (jeruk purut). Hiem tersebut sangat populer dalam masyarakat Aceh.

Hiem-hiem lain yang sangat merakyat antara lain: On jih sion bak jih sion, meunan tiep-tiep thon si umu donya (Daunnya selembar, batangnya sebatang, begitulah sepanjang masa). Hiem ini saya dengar pertama kali dari Tgk Abi Husaini (muazzin Masjid Agung al-Makmur). Jawabannya: Aweeuk sudok (kentong nasi, sendok nasi). Soboh cicem jipo u gunong, sayeuep dua gaki jih enam (seekor burung terbang ke gunung, sayapnya dua kakinya enam). Jawabannya: Lalat.

Menciptakan Hiem tidak sekadar untuk mencari-cari kelemahan orang lain. Dalam sebuah ciptaan hiem yang berkualitas mengandung banyak unsur ilmu yang perlu dipadukan di dalamnya, antara lain ilmu agama, ilmu jiwa, tasauf, logika (manthek), ilmu budaya, dan lain-lain bila diperlukan.

Hiem yang diciptakan oleh ulama (cendekiawan muslim) tentu lebih bermakna ketimbang hiem yang dihasilkan oleh orang bangsat (bakhil) yang juga bisa dialihkan jawabannya kepada hal-hal yang porno. Hiem-hiem yang porno bukan hanya menjadi tantangan dakwah, tetapi juga bisa mendangkalkan keimanan seseorang. Maaf berikut sebuah contoh hiem porno yang saya dapatkan dari seorang tua kotor (mungkin pengamal imu sihir). Setelah saya teliti memang dia tidak melakukan shalat.

Hiemnya sebagai berikut: Sidroe ureueng tamong lam meuseujid, tinggai aneuek miet dua di lua. (Seorang lelaki masuk dalam masjid, tinggal anak kecil dua di luar). Jawabannya zakar pria yang bersenggama. Tentu hiem semacam itu tidak mendidik. Masih sangat banyak hiem-hiem yang jorok seperti itu.

Lomba Hiem
Adalah Yusof Bombang (seniman muda) Banda Aceh yang membuat terobosan mengejutkan awal tahun ini. Dia dan kawan-kawannya berhasil membuat acara lomba hiem di Taman Budaya Banda Aceh, Rabu (14/01) yang dibuka oleh Walikota Banda Aceh H Syarifuddin Latief. Acara lomba seperti itu menurut Yusof Bombang adalah yang pertama diadakan di kota Banda Aceh. Tujuannya untuk menghidupkan kembali warisan budaya Aceh yang berharga.

Budayawan Aceh Sujiman A Musa menilai langkah Yusof Bombang sangat tepat. Begitu juga Walikota Syarifuddin Latief yang menilai hiem itu perlu dibudayakan kembali. Ketua DKA Helmi Hass juga menyambut baik terobosan lomba hiem tersebut. Seniman serba bisa Udin Pelor, penyair Hasbi Burman, A A Manggeng Putra, Din Saja, Maskirbi dan sejumlah seniman lainnya turut menilai positif.

Hiem yang Positif
Hiem yang positif adalah hiem yang mengandung nilai dakwah di dalamnya. Berguna bagi orang yang mendengarnya, menjadi i'tibar dan ibrah. Terkenang-kenang orang yang pertama kali mengajarkannya. Menjadi amal saleh bagi penciptanya. Berikut beberapa hiem yang positif dan mengandung nilai agama di dalamnya.

1. Allah kon, makhluk pih kon (Allah bukan, makhluk juga bukan). Apakah itu? Sulit orang awam mejawabnya, tetapi orang-orang yang ahli bidang ilmu tauhid sepakat jawabannya adalah kitab Suci al- Quranul Karim. Hiem ini beredar dalam kalangan dayah di Aceh. Saya menemukan dari almarhum Tgk Muhammad Saleh (anggota DPR RI). Tidak dikenal siapa yang mengarang pertama kali hiem ini. Beliau sendiri mendengar dari almarhum Tgk H Hasan Krueng Kalee, mertuanya.

Menurut ulama Ahlussunnah wal Jamaah, al-Quranul Karim itu kalam Allah, ia kekal, tetapi bukan Allah. Hakikat al-Quran tidak tertulis, tidak tercetak, kertas dan dawat itu memang makhluk ciptaan manusia, namun Al-Quran yang hakiki adalah firman Allah itu sendiri, ia bukanlah makhluk.

Itulah kitabullah yang qadim. Kedudukan al-Quran sangat tinggi dan mulia. Ia mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW, petunjuk bagi umat Islam dan manusia, obat bagi jiwa-jiwa yang resah, ruh jihad bagi pahlawan, bahan renungan bagi ulil albab, sumber ilham bagi penyair, rahmat bagi makhluk, dan sumber hukum bagi para hakim.

Bangsa-bangsa yang berpedoman kepada al-Quran akan selamat di dunia dan akhirat, sedangkan bangsa-bangsa yang membelakangi al- Quran akan tersesat, dzalim dan binasa. "Dan, siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabb-nya lalu ia berpaling darinya.(QS. al-Kaffi:57).

Kalamullah disebut juga dengan wahyu, firman dan al-Furqan (pembeda antara yang baik dan buruk). Membaca saja sudah mendapat pahala, apalagi mengamalkannya dengan yakin, tetapi pahala akan rusak apabila sipembaca itu tidak mengetahui apa yang dibacakannya sehingga ia tak segan-segan melanggar semua yang diwajibkan oleh Allah dan terbiasa dengan larangan.

Orang-orang yang alim (berilmu) yang tahu betul fungsi al- Quran sangat menjaga martabat dirinya agar tidak melanggar dengan al-Quran. Mereka tidak ingin seperti bangsa Yahudi dan bangsa- bangsa lain yang telah dibinasakan Allah karena menolak kitabullah sebelum Quran, yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Semoga kita umat Islam kembali kepada al-Quranul Karim sebagai pedoman hidup yang sudah pasti kebenarannya.

Allah telah berfirman; Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu (QS. an-Nisa':105). Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira, dan yang membawa peringatan. (QS. Fushshilat: 3 -4).

2. Meujuta-juta ureueng geuplueng, yang meuuntong cuma sidroe (Berjuta-juta orang berlarian, yang beruntung cuma satu). Hiem ini ciptaan saya sendiri pada malam Selasa, (5/01) di Masjid Raya Baiturrahman setelah saya membaca Tafsir Surah al-Alaq. Apakah itu? Sangat ilmiyah dan banyak orang tak mampu menjawabnya. Saya pernah menjual hiem ini di depan ratusan penonton lomba hiem di Taman Budaya Banda Aceh (Rabu,14/01) dengan menawarkan hadiah Rp 1 juta. Namun tidak ada yang mampu menjawabnya. Tahukah anda jawabannya? Itulah Reproduksi Manusia, yakni mani pria yang terpancar dalam rahim wanita. Berjuta-juta kromoson yang masuk, cuma satu yang membuahkan hasil, bertemu dengan ovum. Iqra' bismi Rabbikal ladzi khalaq Khalaqal inshaana min alaq (Bacalah dengan nama tuhamu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpala darah) (QS. Surah al-'Alaq:1--2).

Manusia pertama (Nabi Adam) diciptakan Allah dari tanah (turab), Nabi Isa ibnu Maryam dari ruh (tanpa ayah), tetapi manusia-manusia yang lain Allah menciptakan dari proses perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita. Proses kejadiannya disebut dalam al-Quran Khalaqal insaana min alaq (menciptakan manusia dari segumpal darah ('alaq).

Dalam ayat lain Allah berfirman: Bukankah dia dulu setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim (QS. al-Qiyamah:37). Ketahuilah, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani (nutfah), kemudian dari segumpal darah ('alaqah), kemudian dari segumpal daging (mudghah)...(al-Hajj:5) Dalam Surah al-Mursalat disebutkan manusia diciptakan dari air yang hina.

Menurut ahli kandungan (bidan dan dokter), 'alaq atau 'alaqah itu awalnya adalah sperma laki-laki yang terpancar masuk dalam rahim perempuan, lalu bercampur dengan ovum. Mani yang terpancar itu sangat banyak sampai 300 juta spermatozoa, tetapi yang akan membuahi umumnya hanya satu saja.

Dari hasil pembuahan ini terbentuklah zygot. Zygot ini berkembang melalui pembelahan diri, yaitu satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi enam belas dan seterusnya sehingga menjadi sel-sel yang banyaknya 64 sel. Dalam keadaan inilah zat calon manusia ini mencapai rongga rahim untuk bersarang atau melekat seperti lintah. Inilah yang disebut 'alaq atau 'alaqah. Demikian tulis Prof Dr Maurice Bucaille dalam buku: Bibel, Quran dan Sain Modern.

3. Makhluk Tuhan, Kon Inong kon agam, kon khunsa (Makhluk Allah yang beriman. Perempuan bukan, lelaki bukan, wadam juga bukan)! Siapakah makhluk ini? Jawabannya adalah Para Malaikat yang diciptakan Allah dari cahaya. Hiem ini sangat cocok untuk mengajarkan anak-anak di rumah. Saya dengar pertama kali dari guru saya, almarhum Prof Tan Sri Kra Datu A Hasjmy. Mengenai para malaikat Rasulullah bersabda: Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, serta hari Kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada qadha dan kadar-Nya. (Hr. Muslim)

Beriman kepada malaikat adalah salah satu rukun Iman bagi umat Islam. Jumlah malaikat tak terhitung banyaknya. Mereka diciptakan Allah dari nur (cahaya). Bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan juga khunsa (wadam). Para malaikat tidak kawin dan tidak beranak, tidak lalai dalam tugasnya sebagai hamba Allah yang selalu memuji- Nya.

Malaikat mampu merubah rupanya kepada bentuk-bentuk makhluk yang lain seperti manusia, hayawan yang halal, dan lain-lain. Misalnya malaikat Jibril pernah menemui Nabi Muhammad dan sahabatnya dalam masjid Nabawy di Madinah untuk mengajarkan pokok-pokok agama Islam. Dalam perang Badar Kubra para malaikat turun menyerupai dirinya sebagai tentara Islam.

Di antara jutaan malaikat, kita umat Islam wajib mengenal 10 malaikat yang besar jasanya dalam tugas-tugas yang diberikan Allah. Mereka adalah Jibril as, tugas utamanya menyampaikan wahyu kepada para rasul, Mikail as, tugas utamanya mengatur angin dan hujan, Izrail as, mencabut nyawa makhluk, Israfil as, meniup Sangkakala menjelang Kiamat, Rakib as,dan Atib as, keduanya mencatat amal baik dan buruk, Munkar as, dan Nangkir as, keduanya menyoal dan menyiksa dalam kubur, Malik Zabaniah, as, mengurus neraka, Malik Ridwan as mengurus surga.

Jika kita selalu teringat kepada malaikat dan tugas-tugasnya, tentu kita tidak berani melakukan larangan Allah SWT, sebab apapun yang kita kerjakan selalu dalam pengawasannya. Manusia memang sangat banyak yang melupakan malaikat sehingga mereka senagaja berbuat dosa. Seandainya mereka dapat mengenal malaikat secara mendalam pasti mereka malu dengan malaikat apabila hendak berbuat larangan Allah.

H Ameer Hamzah adalah sastrawan dan salah seorang penerima Anugerah Seni 2003 dari Dinas Kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam.

DbClix


http://m.serambinews.com/

0 comments:

Poskan Komentar