"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Rabu, 27 April 2011

Wali Allah Dalam Perspektif Rumi

Matsnawi-e Ma`nawi adalah sebuah kitab tentang para wali dan jalan hidup mereka. Segala seluk beluk tentang wali dijelaskan dalam kitab ini. Di antara kitab-kitab mistik (‘irfan), jarang ditemukan kitab seperti Matsnawi-e Ma`nawi yang mampu menerangkan ihwal dan rahasia para wali dengan penjabaran mendetil dan memukau.

Bisa dikatakan bahwa kitab ini jarang, kalau tak bisa dikatakan tidak, memiliki padanan di antara kitab-kitab irfan atau warisan-warisan mistis di dunia. Kitab agung ini ibarat samudera yang bergolak dan penuh dengan mutiara-mutiara hakikat ketuhanan. Semuanya dilantunkan dalam bingkai syair-syair indah Persia. Kami hanya akan membahas salah satu masalah irfan terpenting Rumi, yaitu ihwal wali Allah.

Dalam pandangan Rumi, kewalian (wilayah) adalah sebuah kehidupan kedua; mati dan keluar dari kehidupan materi, lalu hidup dengan kehidupan spiritual. Alquran juga menerangkan makna ini, Apakah orang yang mati, kemudian Kami hidupkan dan memberinya cahaya, yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama seperti orang berada dalam kegelapan dan tak akan keluar darinya. (Al-An`am:122)

Para wali Allah seumpama Isrofil yang meniupkan nyawa kepada orang mati dan memberinya kehidupan kembali.

Dari mulut manusia yang harum

Kudengar pesan ilahi, juga salam

Sqlam ini tercium oleh semua

Kuteguk dengan hati yang lebih lezat darinya

Dari salam itu terdengar salam Tuhan

Yang telah nyalakan api dalam dirinya

Ia sudah mati, tapi hidup bersama Tuhan

Karena itulah bibirnya ucapkan rahasia Tuhan

Matinya tubuh adalah kehidupan

Derita tubuh kan lestarikan jiwa

Para wali adalah Isrofil masa ini

Mereka hidupkan orang mati

Jiwa-jiwa mati dalam kuburan badan

Suara mereka teredam dalam kafan

Mereka kata, suara ini berbeda dari yang lain

Yang beri kehidupan adalah suara Tuhan

Kita mati dan habis sudah

Kita bangun saat suara Tuhan berkumandang

Bahwa para wali ibarat Isrofil yang memberikan jiwa kepada orang mati, Rumi menjelaskan bahwa mereka sudah mati meninggalkan diri sendiri dan hidup kembali dengan (cahaya) Allah. Mereka telah melebur dalam cinta ilahi sedemikian rupa, sehingga mereka mendengar dan melihat dengan Allah. Semua sifat mereka adalah sifat rabbani. Rumi berargumen dengan hadis qurb nawafil, qurb faraidh, dan riwayat man kana Allah lahu…Meski hakikat-hakikat yang didengar dari lisan wali Allah berasal dari lidah mereka, namun sesungguhnya itu adalah suara Sang Penguasa Wujud.

Rahasianya adalah bahwa Allah telah mengajarkan rahasia-rahasia asma ilahi kepada manusia serta menyingkap rahasia asmaul husna melalui manusia atau wali-Nya kepada makhluk-makhluk lain. Lantaran manusia adalah manifestasi asma ilahi, maka cahayanya adalah cahaya Allah dan cahaya-Nya menyinari orang-orang beriman melalui wali-Nya.

Dia yang ajarkan asma-Nya kepada Adam

Dan Adam singkap asma-Nya kepada selainnya

Para wali menguasai alam wujud berkat kuasa Allah. Dengan kuasa-Nya pula mereka mampu menarik anak panah yang telah melesat, kembali ke busurnya.

Jika kita menyerupakan alam wujud sebagai samudera, maka para wali adalah paus-paus penjaga samudera ini dan ikan-ikan di dasarnya. Karena mereka berada dalam naungan kubah keagungan Allah, hingga membuat mereka tak bisa dikenali selain mereka. Para wali berada dalam kubah “la ya`rifunahum ghoiri” (tak ada yang mengenal mereka selain-Ku).

Mereka adalah ikan-ikan lihai di bawah samudera

Ular jadi ikan dengan sihir mereka

Mereka adalah ikan-ikan di dasar samudera Tuhan

Semua mereka kuasai sihir yang diijinkan Tuhan

Maka mustahil kenali mereka

Kesialan menyelam di sana dan keluar menjadi keberuntungan

Jika aku bicara tentang mereka hingga kiamat

Bicaraku tak akan rampung meski terjadi seratus kiamat

Para wali adalah ‘bayangan’ Allah di dunia. Sebagian urafa menyebut wujud mutlak sebagai bayangan Allah. Mereka berdalil dengan ayat, Tidakkah kaulihat Tuhanmu yang telah memanjangkan bayangan. Dan andai Ia menghendaki, niscaya Ia akan membuatnya tenang. (Al-Furqan:48). Menurut Rumi, bayangan yang dihamparkan Allah adalah para wali. Oleh karena itu, manusia harus berpegang dengan mereka agar terlindung dari bencana akhir zaman.

Hamba Tuhan adalah bayangan-Nya

Mati di dunia ini, tapi hidup di sisi-Nya

Segera pegang tangan mereka

Agar selamat dari bencana

Jangan pergi ke lembah tanpa pemandu

Seperti Ibrahim, katakan “la uhibbul afilin”

Para wali adalah alkemis sejati. Mereka merubah wujud manusia dari tembaga menjadi emas. Jika kisah tentang berubahnya tembaga menjadi emas adalah benar dan bukan sekedar mitos, lalu apa gunanya bagi manusia? Andai dunia ini dipenuhi emas sekalipun, bukankah itu tak akan berguna bagi manusia saat ia mati, dan bahkan hanya membawa penyesalan? Kimia yang sesungguhnya adalah kimia kewalian, yang mengantarkan manusia kepada Allah. Kewalian tak akan berakhir dengan kematian, bahkan turut menyertai manusia ke akhirat. Bisa dikatakan bahwa dalam wujud manusia, hanya kewalian yang tetap tersisa. Dengan satu pandangan, para wali bisa mengubah orang kafir menjadi orang beriman, orang musyrik menjadi muwahhid, orang bodoh menjadi berilmu, dan jauh dari Allah menjadi dekat dengan-Nya.

Dalam Buku Ketiga, Rumi menyebut para wali sebagai tabib-tabib ilahi. Ia membandingkan mereka dengan para tabib biasa, yang disebutnya sebagai ‘tabib-tabib dunia.’ Para wali adalah tabib-tabib jiwa. Mereka belajar dari Allah, mengendalikan alam dengan ijin-Nya, melihat langsung ke hati manusia, mendeteksi penyakitnya, dan mengobatinya. Mereka tahu apa manfaat dan bahaya setiap perbuatan dan tindakan. Ilmu mereka adalah ilham dari Allah yang tak mungkin dinodai oleh waswas dari setan.

Berbeda dengan tabib jasmani yang mengetahui kondisi manusia melalui nadinya, para wali mengetahuinya dari ilham ilahi. Tak seperti tabib biasa yang mengambil upah dari pasien, para nabi dan wali tak menuntut imbalan atas amanat kenabian dan kewalian mereka.

Kami adalah murid-murid Tuhan

Samudera terbelah saat tatap kami

Tabib-tabib jasmani itu berbeda

Mereka tahu batin manusia lewat nadi

Kami tahu batin manusia tanpa perantara

Karena kami miliki pandangan tajam

Tak ada upah yang kami kehendaki

Imbalan kami datang dari Yang Mahasuci

Dalam Buku Keempat, Rumi menegaskan bahwa para wali adalah ‘mata-mata’ hati. Mereka tahu penyakit agama dan hati pengikut mereka melalui tatapan mata. Mereka tahu isi hati manusia lewat nada bicara dan warna mata, bahkan meski tak satu pun kata terucap. Dengan mendengar nama seseorang dari jauh, mereka bisa menyelami batinnya hingga dasarnya. Sebagaimana dikatakan bahwa Yazid Basthami telah memberitahukan sifat dan kedudukan spiritual Abul Hasan Kharqani jauh sebelum ia dilahirkan.

Para nabi dan wali adalah wakil-wakil Allah. Memang Allah tak bisa dilihat dengan mata, tapi wakil-Nya bisa dilihat dengan mata. Melihat mereka sama saja dengan melihat Allah, seperti yang ditegaskan dalam riwayat dari Nabi saw,”Sesiapa yang melihatku, berarti ia telah melihat Allah.” Ini dikarenakan wali mutlak adalah manifestasi asmaul husna ilahi. Mereka telah melebur sedemikian rupa dalam cinta ilahi sehingga tak ada perpisahan antara mereka dan Allah.

Ketika masa kenabian telah berlalu dan wanginya telah berakhir, maka kita harus mencari wangi bunga kenabian dalam sari bunga kewalian, yang merupaka perasan dari kenabian.

Secara lahiriah, para wali nampak biasa-biasa saja. Tapi dalam diri mereka terpendam banyak hal; semua dunia, surga dan neraka, serta segala bagian dari wujud tunduk kepada wali mutlak. Pada prinsipnya, kedudukan wali mutlak tak bisa dilukiskan dalam bingkai kata-kata. Apapun yang kita lihat pada diri mereka, sebenarnya kita hanya melihat rumahnya saja dan lalai dari tuan rumah. Kita tidak tahu bahwa ada mutiara yang sedemikian berharga. Sebagian orang gemar memuliakan masjid-masjid, tapi mengusik manusia-manusia pilihan yang merupakan rahasia masjid. Para wali adalah hakikat masjid dan mihrab, bahkan mereka adalah masjid dan tempat sujud sejati semua makhluk. Bangunan masjid tak lebih dari sebuah kiasan di hadapan para wali.

Karena para wali telah melebur dalam cinta ilahi dan menyingkirkan hawa nafsu, maka tak ada perselisihan di antara mereka. Berbeda dengan ilmu-ilmu biasa, yang disebut Rumi sebagai “ilmu-ilmu prasangka,” yang dipenuhi perbedaan dan perselisihan. Pada hakikatnya, wujud para wali ini telah disinari cahaya ilmu.

Lantaran orang-orang beriman telah menaklukkan hawa nafsu, maka kendati secara lahiriah mereka berjumlah banyak, namun hakikat iman adalah satu. Meski tubuh mereka berbeda, tapi seolah satu jiwa ditiupkan kepada tubuh-tubuh ini. Sebaliknya, karena orang-orang biasa masih dikuasai nafsu hewani, maka mereka saling bertarung seperti anjing dan serigala. Tapi jiwa-jiwa para wali Allah bersatu ibarat singa-singa.

Rumi menggunakan perumpamaan cahaya. Ketika cahaya matahari menyinari pekarangan rumah-rumah, cahaya itu menjadi banyak mengikuti banyaknya pekarangan. Tapi jika pekarangan-pekarangan itu diambil, maka pasti cahaya itu menjadi satu. Rumi mengulang perumpamaan indah dan penyerupaannya dengan cahaya kewalian di beberapa tempat dalam Matsnawi-nya. Ia menyerupakan para wali dengan cahaya dua mata yang tak memiliki perbedaan. Atau seperti seratus pelita dalam sebuah rumah yang saling berbagi cahaya.

Para wali adalah anonim di tengah masyarakat. Keberadaan mereka selalu dipungkiri. Jarang ada orang yang mengetahui rahasia mereka. Inilah yang menyebabkan kesesatan orang awam, sebab orang biasa menghukumi secara lahiriah dan melalaikan sisi batiniah. Mereka menganggap wali seperti mereka, bahkan menganggap diri mereka lebih unggul darinya. Seperti yang dilakukan orang-orang kafir ketika melihat Rasulullah seperti mereka. Mereka berkata,”Nabi macam apa ini? Dia makan, tidur, dan berjalan seperti kita.” Para wali adalah manusia dari jenis lain. Perbedaan mereka dengan manusia biasa seperti perbedaan antara lebah madu dan lebah penyengat, atau kijang penghasil kotoran dan kijang penghasil kesturi. Manusia biasa tak bisa melihat perbedaan antara mereka, sebab ia menghakimi dengan mata kepala, bukan mata hati.

Jangan bandingkan orang suci dengan dirimu

Meski satu singa sama dengan yang lain dalam memangsa

Semua dunia tersesat karena ini

Jarang orang tahu rahasia wakil ilahi

Mereka anggap wali seperti mereka

Kata mereka, kami sama-sama manusia

Kami sama-sama tidur dan makan

Orang awam ini tidak ketahui

Perbedaan tanpa ujung antara mereka

Dua lebah sama-sama makan dari satu tempat

Tapi yang ini keluarkan sengat, yang itu madu

Dua rusa sama-sama makan rumput

Tapi yang ini keluarkan kotoran, yang itu kesturi

Dua tebu sama-sama minum air

Tapi yang ini kosong, yang itu berisi gula

Lihatlah ribuan yang mirip semacam ini

Tapi masing-masing berbeda jauh

Yang ini makan, kotoran keluar darinya

Yang itu makan, cahaya memancar darinya

Kecintaan terhadap para wali adalah kecintaan kepada Allah, dan permusuhan dengan mereka adalah permusuhan dengan-Nya. Bergabung bersama mereka adalah bergabung dengan Allah, dan berpisah dari mereka adalah berpisah dari-Nya. Jika Allah hendak menghinakan suatu kaum, maka Ia akan membuat mereka menyakiti hati wali-Nya. Rumi memperingatkan manusia agar jangan memusuhi para wali dan menghimbaunya untuk mencintai mereka. Ia selalu mengatakan jangan sampai manusia meniru para pendahulunya yang memusuhi wali-wali Allah. Ia harus tetap waspada dan tidak membiarkan tanda-tanda permusuhan kepada wali Allah muncul dalam dirinya.

Salah satu pembahasan penting tentang wali yang dikemukakan Rumi adalah ilmu mereka. Karena para wali telah melebur dalam cinta ilahi, maka Allah menjadi telinga, mata, dan lisan mereka saat mendengar, melihat, dan berbicara.

DbClix


http://www.taghrib.ir/indonesia/index.php?option=com_content&view=article&id=315:wali-allah-dalam-perspektif-rumi&catid=64:monasebatha&Itemid=150

0 comments:

Poskan Komentar