"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Rabu, 12 Mei 2010

Leo Africans: Ilmuwan Fenomenal Dua Peradaban

"The Renaissance Man" Julukan itu ditabalkan masyarakat Eropa di abad ke-16 M kepada sejarawan dan penjelajah Muslim terkemuka Al Hassan ibnu Muhammad Al-Wazzan Al-Fassi atau Leo Africanus. Catatan perjalanannya tentang Afrika yang detail dan mengagumkan telah turut `membangunkan’ peradaban Barat yang tertidur lelap dalam era kegelapan.
Perlawanannya terhadap tindakan sewenang-wenang Paus Hadrianus VI pengganti Paus Leo X membuat Al-Wazzan dianggap sebagai salah seorang `lokomotif’ Renaisans di Eropa. Saat era pencerahan itu bergulir, Al-Wazzan berada di Italia. Ia tercatat sebagai seorang intelektual terkemuka yang tinggal di Negeri Spaghetti itu.

Al-Wazzan adalah sosok ilmuwan yang unik dan legendaris. Dua peradaban yakni Islam dan Barat (Kristen) mengklaim sang intelektual sebagai milik mereka. Tak heran, jika Sejarawan Tom Verde menyebut Al-Wazzan sebagai ‘Manusia Dua Dunia’. Saat berada di Afrika Utara, dia mengabdikan dirinya untuk Sultan di Maroko. Namun di Barat, dia bekerja untuk kepentingan pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus. Al-Wazzan pun dinilai mampu menjembatani peradaban yang berseberangan lewat kamus tiga bahasa yang ditulisnya Arab- Latin-Yahudi. ‘’Kebudayaan dan identitas nasionalnya sangat sulit untuk ditentukan. Sebab, mereka begitu melekat erat,’‘ papar Sejarawan Lotfi Bouchentouf dari Universitas Hasan II di Ain Chok, dekat Casablanca.

Menurut Bouchentouf, Al-Wazzan adalah seorang Muslim yang hidup sebagai seorang Kristen dan menulis dunia Islam untuk masyarakat Kristen. Laiknya intelektual Muslim kenamaan lainnya, Ibnu Battuta, Ibnu Khaldun dan Ibnu Jubair — Al-Wazzan alias Leo juga adalah ilmuwan serba bisa.

Ia tak hanya dikenal sebagai seorang sejarawan dan penjelajah kenamaan, namun juga seorang diplomat, ahli hukum, geographer, guru, pengelola rumah sakit, dan tokoh internasional. Peradaban Islam juga mencatatnya sebagai seorang ahli pembuat peta alias kartografer dan seorang navigator.

Al-Wazzan terlahir di kota Granada, Spanyol Muslim pada tahun 1493 atau 1494. Menu rut Prof Mohammad Hajjipenyusun ensiklopedia Maroko, nama depan Al-Wazzan adalah Hassan. Ayahnya bernama Muhammad. “Ia pastinya dari sebuah keluarga yang memiliki posisi tinggi di Istana Sultan di Granada,” papar Prof Hajji.

Leo beserta keluarganya hijrah ke kota Fez Maroko ketika umat Islam terusir dari Spanyol pa da abad ke-15 M. Saat itu, umat Islam di Spanyol Muslim dibantai oleh penguasa Kris ten. Prof Hajji menuturkan, sang ayah dan pa man Al-Wazzan bekerja untuk Sultan Fes. Al-Wazzan sempat menimba ilmu di Universitas Al-Qarawiyyin perguruan tinggi tertua di dunia.

‘’Sebagai seorang mahasiswa Al- Qarawiyyin, Leo mempelajari tata bahasa, retorika, sastra, astronomi dan ilmu-ilmu lanilla,’‘ ungkap John Pory, penerjemah bukubuku karya Leo Africanus. Al-Wazzan merupakan mahasiswa yang cerdas. Di usia 14 tahun, dia sudah memegang gelar qadi atau hakim. Dua tahun kemudian, dia sudah menjadi seorang diplomat ulung.

Di usianya 16 tahun, Al-Wazzan atau yang dikenal di Fez dengan panggilan Al-Fasii itu kerap menemani pamannya menjalankan tugas-tugas diplomatik mewakili Sultan Wattasid untuk kawasan Maghribi, Afrika Utara. Ia juga sempat singgah ke Timbuktu dan Gaodua kota Muslim terkemuka yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Songhai.
Ia pun mengisahkan perjalanannya ke Timbuktu itu dalam buku catatannya. Ia begitu mengagumi kemajuan yang dicapai Timbuktu yang telah menjelma menjadi kota ilmu pengetahuan dan perdagangan yang sangat maju. Al-Wazzan juga begitu terkagum- kagum dengan gunung-gunung nan Indah yang ada ditemuinya di Timbuktu.

Kemampuan diplomasinya yang hebat menarik perhatian Sultan Muhammad. Tak heran, jika ia menjadi salah satu duta besar kepercayaan Sultan. Karena itu, Al-Wazzan kerap mendapat tugas diplomatik ke Timbuktu. Ia pun sempat melakukan perjalanan dari Timbuktu (Mali) menuju Hausaland (Nigeria) melewati Mesir.

Semua perjalanan yang dilaluinya itu dituliskannya dalam buku catatan. Ia juga meng gambarkan jalur perjalanannya itu dalam peta pada abad ke-15 M untuk Charles Vmeng gambarkan jalur perdagangan di sub-Sahara Afrika. Karirnya yang cemerlang sebagai seorang diplomat membawanya hingga ke Istanbul ibu kota pemerintahan Kekhalifahan Usmani Turki. Ia sempat bertemu dengan Sultan Sulaiman penguasa Eropa yang sangat disegani.

Pada tahun 1518, dalam perjalanan pulang dari Istanbul rombongannya ditangkap oleh para bajak laut yang bekerja untuk Ksatria Saint Jhon. Biasanya mereka yang ditangkap para bajak laut itu dijual ke para pedagang budak di Pisa dan Genoa. Namun, Al-Wazzan yang terpelajar dengan peta dan catatan perjalanan yang ditulisnya diserahkan Ksatria Saint Jhon kepada Paus Leo X.

Ia lalu tiba di Roma sebagai tahanan yang istimewa. Al-Wazzan diperlakukan secara khusus, karena dianggap memiliki kemampuan dan pengatahuan yang luas. Apalagi, Al- Wazzan dianggap mengetahui kekuatan Sultan Sulaiman. Saat itu, Amat Kristen dan Islam tengah terlibat pertempuran dalam Perang Salib. Dalam waktu yang tak terlalu lama, dia menjadi orang yang terkenal di Roma.

Pada 6 Januari 1520 M, Al-Wazzan sempat dibaptis oleh Paus Leo X dan diberi nama ‘Johannes Leo de Medicis’, atau ‘Giovanni Leone’. Saat itu dia berusia 24 tahun. Namun, dia lebih suka dengan nama barunya Yuhana Al-Asad. Sejatinya, dia tak pernah menggunakan nama Leo Africanus. Nama bekennya di dunia Barat itu dipopulerkan oleh penerbit dari Venesia, Giovanni Battista Ramusio.

Setelah menjadi ilmuwan kepercayaan Paus, Leo memilih untuk kembali ke Afrika Utara. Baru pada tahun 1527 dia kembali ke Roma. Saat itu kepemimpinan tertinggi Katolik sudah dijabat Paus Clement VII. Situasi politik Roma pusat Katolik ketika itu juga tak menentu. Posisi Kekhalifahan Usmani Turki yang semakin kuat membuat Paus kebingungan.

Selain itu di Jerman juga muncul gerakan Reformasi Protestan dan Raja Henry VIII penguasa Inggris memutuskan hubungan diplomatik dengan Roma. Ketika Roma diserang pada Mei 1527 oleh Raja Charles V, Leo melarikan diri ke kota Tunis, Tunisia. Namun, umat Katolik meyakini Leo meninggal di kota Roma pada tahun itu.

Namun, orientalis asal Jerman bernama Johann Albrecht von Widmanstetter (1506 M1557 M) pada 1531 M mengaku bertemu dengan ilmuwan Muslim terkemuka yang dikenal dengan panggilan Leo. Al-Wazzan alias Leo diyakini tutup usia pada tahun 1550 M di Tunis. Ia meninggal dalam keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Karya Fenomenal Sang Ilmuwan
Buah pikir Leo Africanus atau Al- Wazzan begitu popular di Afrika. Sejak 1550 M tak kurang dari 33 edisi buku sejarah yang ditulisnya telah dipublikasikan dalam delapan bahasa. ‘’Dalam waktu yang sangat cepat, bukunya telah menyebar di seluruh Eropa,’‘ papar Sejarawan Ahmed Boucharb.

Menjelang era Renaisans itu, begitu banyak orang Eropa yang ingin mengetahui apa yang dapat mereka pelajari tentang Afrika. Kemajuan pesat yang dialami kota-kota Muslim di Afrika paling tidak telah membuka kesadaran masyarakat Eropa yang berada dalam keterbelakangan.

Potret kemajuan Afrika yang ditulis Leo Africanus telah memantik kesadaran masyarakat Eropa untuk berubah. Inilah yang membuat orang Eropa menyebutnya sebagai ‘The Renaissance Man’. Diplomat Swedia yang ditempatkan di Tangier, Maroko pada tahun 1834 M, mengakui karya Leo dalam Cosmographia Del Africa masih akurat.
Buku itu merupakan karya terbesar Al- Wazzan. Buku ini pertama kali diterbitkan di Italia pada tahun 1550 M. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Italia berjudul Della Descrittione Dell’Africa et Delle Cose Notabli che Ivi Sono. Buku itu kemudian diedit ulang pada tahun 1554, 1563, 1588, 1606 dan 1613 M. Pada edisi 1588 penerbit mengklaim Leo meninggal di Roma, Italia.

Selain itu, buku fenomenal Al-wazan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis pada 1556 M oleh Jean Temporal dengan judul Historiale Description de l’Afrique Tierce Partie du Monde. Buku itu juga diterbitkan pada 1896 dalam bahasa Francis dengan judul Description de l’Afrique. Buku itu juga pada tahun 1559 dan 1632 diterjemahkan dalam bahasa Latin berjudul De totius Africae descriptione libri IX. Dalam bahasa Jerman, buku karya Leo tampil dengan judul Beschreibung von Africa diterbitkan oleh Lorbach pada tahun 1805 M.

Budak Paus yang Muslim
Benarkah Al-Hassan ibnu Muhammad Al-Wazzan Al-Fassi atau Leo Africanus sempat berpindah keyakinan menjadi seorang Katholik? Kepindahan keyakinan Al-Wazzan hingga kini masih mengundang beragam spekulasi. Adalah sebuah fakta sejarah bahwa Al-Wazzan sempat dibaptis oleh Paus Leo X pada tahun 1520 M.

‘’Pembaptisan itu tak mengubah keyakinan Al-Wazzan. Dia tetap seorang Muslim sejati,’‘ cetus Prof Mohammad Hajji, seorang guru besar yang menyusun Ensikopedia Maroko. Keputusan Al-Wazzan untuk menjalani baptis, semata-mata hanyalah strategi agar lepas dari penjara Paus. Selain itu, Al- Wazzan juga bersiasat untuk bebas dari kewajiban membayar pajak.

‘’Pada saat itu, hal seperti ini biasa terjadi,’‘ papar Sejarawan Ahmed Boucharb, mantan dekan Sekolah Seni dan Sains Universitas Muhammad. ‘’Orang Islam dan Yahudi pindah menjadi Kristen; orang Kristen menjadi Muslim,’‘ ujar Baouchard. Ia mencontohkan, Kekhalifahan Usmani Turki diperkuat prajurit yang sebenarnya beragama Kristen.

Begitu pula tentara Maroko yang memiliki ribuan prajurit yang pindah agama menjadi Islam. Al-Wazzan mengibaratkan diri sebagai burung pada satu kesempatan dan mengibaratkan dirinya sebagai ikan pada kesempatan yang lain. Ketika pungutan pajak membebaninya, ia terbang sebagai burung bagi sang Paus.

Ketika beribadah dan menyakini tauhid yang sebenarnya yakni Islam, Al-Wazzan segera berubah menjadi ikan yang menyelam di dasar air. Apa yang dilakukan Al-Wazan sebagai sebuah startegi menyembunyikan keyakinan untuk menyelamatkan diri yang dikernal sebagai taqiyya. Ia mengelabui Paus dengan baptis palsunya agar dia bisa menyelesaikan karya besarnya berjudul Cosmographia pada Maret 1526 M.

Dia menulis banyak buku saat mengajar bahasa Arab di Universitas Bologna, universitas pertama yang dimiliki peradaban Barat. Ketika Paus Leo X meninggal pada 1524 M, Al-Wazzan segera bergegas ke Afrika Utara untuk menghindar dari Hadrian IV sahabat Paus. Ketika berada di Italia, dia menulis beberapa beberapa risalah seperti sejarah Islam dan keyakinannya tentang Islam. Namun, risalah itu hilang dan tak ditemukan lagi.

http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2009/03/leo-africans.html

0 comments:

Poskan Komentar