"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? ...Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...! ...Klik disini-1 dan disini-2"

Minggu, 20 Desember 2009

Al-Ghazali Menemukan Titik Hati

Dyah Ratna Meta Novi

Dalam karyanya, Al-Ghazali secara simbolis mengungkap tentang sinoatrial node sebelum ilmuwan lainnya.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali yang lebih akrab dipanggil Al-Ghazali, mewariskan banyak pemikiran dan penemuan. Ia merupakan pemikir Muslim besar yang menguasai banyak bidang dan lebih dikenal dengan pemikirannya dalam bidang agama, filsafat, dan sufisme.

Namun, di bidang lain, yaitu kedokteran, ternyata Al-Ghazali juga meninggalkan jejak pemikirannya. Ia telah menyumbangkan pemikiran dan jasa yang besar dalam kedokteran modern melalui penemuan sinoatrial node atau nodus sinuatrial.

Dalam istilah kedokteran, sinoatrial node ini merupakan kumpulan mokroskopis dari jaringan urat jantung atau sel-sel. Jaringan atau sel itu terletak pada ujung teratas sulcus terminalis, pada persimpangan vena-vena puncak dan atrium kanan.

Ritme atau denyutan jantung, secara normal bersumber dari node ini yang biasa disebut node Keith dan Flack, yang menemukan teori tersebut pada 1907. Mereka bernama A Keith (1866-1955), ahli anatomi dan antropologi Skotlandia, dan MW Flack (1822-1931), fisiolog Inggris.

Terlepas dari penemuan kedua ilmuwan itu, merujuk penelitian sejarah dan pengkajian atas pemikiran-pemikiran Al-Ghazali, ternyata dia yang pertama kali menemukan hal yang terkait dengan sinoatrial node. Ini terungkap dalam buku karyanya.

Ada tiga karya yang mengungkap masalah itu, yaitu Al-Munqidh min Al-Dhalal, Ihya Ulum Al Din, dan Kimia Al-Sa'adat. Saat menjelaskan tentang hati sebagai pusat pengetahuan intuitif serta rahasianya, ia berbicara tentang suatu titik dalam hati.

Dalam buku Histografi Islam Kontemporer karya Azyumardi Azra, Al-Ghazali selalu merumuskan titik ini sebagai suatu mata batin yang menemukan ilhamnya. Penjelasan Al-Ghazali tentang hal ini, terdapat dalam buku Al-Munqidh min Al-Dhalal.

Buku tersebut diterjemahkan oleh C Field dengan judul Confession of Al-Ghazali. Istilah mata batin ini, juga disebutkan Al-Ghazali dalam buku lainnya, yaitu Ihya. Dalam buku ini, ia menyebutnya sebagai insting elektrik atau cahaya.

Al-Ghazali menjelaskan, di dalam hati terdapat suatu insting yang ia namakan cahaya Tuhan. Selain itu, ia menyebutnya pula sebagai mata hati, anak-anak hati, dan keintiman hati serta rahasia hati. Ia sebutkan hal itu juga dalam Ihya.

Jika membandingkan konsep titik hati Al-Ghazali dengan sinoatrial node ini, terungkap bahwa konsep Al-Ghazali ini memiliki kaitan erat dengan sinoatrial node. Menurut dia, titik hati itu tak dapat dilihat dengan alat-alat sensoris.

Sebab, jelas Al-Ghazali, titik hati itu bersifat mikroskopis. Apa yang diungkapkannya sama dengan pandangan yang dilontarkan para ahli kedokteran modern. Ia menyatakan pula, titik hati secara simbolis merupakan cahaya seketika yang membagi-bagikan cahaya Tuhan.

Titik hati itu pun bersifat elektrik. Menurut pemikiran modern, dalam satu detik sebuah impuls elektrik yang berasal dari sinoatrial node mengalir ke bawah lewat dua atria dalam sebuah gelombang setinggi 1/10 milivolt, menyebabkan otot-otot atria berkontraksi.

Di sisi lain, pada masa modern ini para ahli anatomi menyatakan, pembentukan tindakan secara potensial berasal dari hati. Yaitu, kontraksi jantung yang merupakan gerakan spontan yang terjadi secara independen dalam sistem syaraf.

Pandangan itu, sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali. Menurut dia, hati itu merdeka dari pengaruh otak, yang juga tercantum dalam Al-Munqidh min Al-Dhalal. Para pemikir modern menyatakan, suatu tindakan kadang terjadi lewat mekanisme yang tak seorang pun tahu mengenai hal itu.

Al-Ghazali mengungkapkan, tindakan yang terjadi melalui mekanisme yang tak diketahui itu, sebenarnya disebabkan oleh sinoatrial node. Dijelaskan pula, penguasa misterius tubuh yang sebenarnya adalah titik hati itu, bukan otak.

Al Ghazali tidak hanya menggambarkan dimensi fisik sinoatrial node, ia pun menggambarkannya dalam dimensi metafisik. Hal ini jauh berbeda dengan pandangan para pemikir sekuler yang hanya mampu menggambarkan sinoatrial node secara fisik semata.

Secara metafisik, Al Ghazali menggambarkan sinoatrial node sebagai pusat pengetahuan intuitif atau inspirasi ketuhanan yang bisa berfungsi sebagai peralatan untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada hambanya.

Al-Ghazali lebih jauh menyatakan, orang-orang yang bisa memungsikan sinoatrial node secara maksimal adalah mereka yang telah mencapai penyucian diri, yaitu mereka yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengaruh Al-Ghazali
Selain jejak pemikirannya soal sinoatrial node ini, pemikiran Al-Ghazali banyak berserak. Pengaruhnya, sangat luas di dunia Islam. Terbukti, hingga saat ini pemikiran dan karyanya banyak menjadi kajian oleh para pemikir-pemikir Islam.

Bahkan, pengaruh pemikirannya juga sampai kepada para pemikir non-Muslim, terutama dalam kajian filsafat. Pengaruh itu merasuk kepada para filsuf modern seperti Rene Descrates, Blaise Pascal, Clarke, dan Spinoza.

Banyak cendekiawan Barat yang menyebut Al-Ghazali sebagai cendekiawan Muslim terbesar. Ini karena pemikiran-pemikirannya yang memberikan pengaruh kuat. Di dunia Barat, ia sering dipanggil dengan nama Algazel. Ia lahir di Naisabur dan tumbuh dewasa di Baghdad. ed: ferry


Mendorong Kajian Ilmu Bedah dan Anatomi

Selain menemukan sinoatrial node, Al-Ghazali juga memberikan sumbangan lain dalam bidang kedokteran dan biologi. Tulisan-tulisan dia diyakini telah menjadi pendorong bangkitnya studi kedokteran pada abad pertengahan Islam, khususnya ilmu anatomi dan pembedahan.

Dalam karya yang berjudul The Revival of the Religious Sciences, Al-Ghazali menggolongkan pengobatan sebagai salah satu ilmu sekuler yang terpuji (mahmud) dan menggolongkan astrologi sebagai ilmu sekuler yang tercela (madhmutn).

Sehingga, Al-Ghazali sangat mendorong orang-orang untuk memepelajari ilmu pengobatan. Saat membahas meditasi atau tafakur, ia menjelaskan anatomi tubuh pada sejumlah tulisannya secara perinci tentang posisi yang tepat dalam melakukan tafakur itu.

Dalam karya yang diterjemahkan dengan judul The Deliverer from Error, Al-Ghazali menuliskan pentingnya umat Islam mempelajari ilmu anatomi dan pembedahan. Dia menyinggung pula soal naturalis, orang yang mempelajari alam, binatang, dan tumbuhan.

Mereka juga sering terlibat dalam ilmu anatomi ataupun pembedahan (ilm at-tashriih) dari tubuh hewan. Melalui proses pembedahan itu, kata Al-Ghazali, mereka mampu merasakan rancangan Allah SWT dan kebijaksanaan-Nya serta keajaiban-Nya.

Menurut Al-Ghazali, mereka akan mengakui kekuasaan Allah dan memahami bahwa siapa pun akan mengalami kematian. Dengan mempelajari anatomi, kata dia, mereka pun mampu mengetahui kegunaan bagian-bagian organ tubuh dan rancangan sempurna Tuhan atas struktur tubuh makhluk hidup.

Rintisan Al-Ghazali dalam bidang anatomi dan pembedahan kemudian dilanjutkan oleh sejumlah ilmuwan Muslim lainnya, misalnya pada abad ke-12 dan ke-13. Sebut saja, Ibnu Zuhr, Ibn al-Nafis, ataupun Ibnu Rusyd yang terkenal dalam bidang tersebut. meta, ed:ferry

0 comments:

Poskan Komentar